UJI BERBAGAI HERBISIDA DALAM MENGENDALIKAN GULMA PADA PERTANAMAN KEDELAI DI LAHAN BASAH Test Of Various Herbicides To Control The Weeds Soybean In Wet Areal

UJI BERBAGAI HERBISIDA PADA PERTANAMAN KEDELAI DI LAHAN BASAH

Test Of Various Herbicides To Control The Weeds Soybean In Wet Areal

Risvan Anwar

Dosen Fakultas Perttanian Unihaz

ABSTRACT

The purpose of the research was to know effect some kind herbicides to control the weed soybean in wet areal.  The study was conducted at Rawa Makmur, Bengkulu from January through April 2007.  A Randomized Block Design was used 3 replication and 8 treatment namely: (A) Agristar; (B)  Ally Plus; (C)  DMA 6; (D)  Metafuron; (E)  Agristar and DMA 6;  (F)  Agristar and Metafuron; (G)   Ally Plus and DMA 6; (H)  Ally Plus and Metafuron. The result of experiment suggested that just pre plant herbicides (Ally Plus and Agristar) or post emergence herbicides (DMA6 and Metaforon) only was not effective to control the weeds soybean in wet areal. Pre plant herbicide (Ally Plus) that next is followed post emergence DMA6 most effective to control the weed soybean in wet areal.

Key word:  herbicide, weeds, control, soybean.

PENDAHULUAN

Khusus untuk propinsi Bengkulu, luas panen dan produksi kedelai cenderung meningkat sejak tahun 2001.  Tahun 2001 luas panen kedelai sebesar 1.515 ha, tahun 2002 naik menjadi 2.055 ha dan tahun 2003 menjadi 2.309 ha.  Produksi kedelai Propinsi Bengkulu tahun 2001 sebesar 1.395 ton, tahun 2002 sebesar 1.919 ton dan tahun 2003 sebesar 2.084 ton dengan produktivitas lahan 0,90 – 0,93 ton per hektar (BPS Propinsi Bengkulu, 2004).  Meskipun ada peningkatan produksi, kedelai propinsi bengkulu masih dipasok dari propinsi lain dan impor.  Di pasar-pasar tradisional sebagian besar kedelai berasal dari import terutama Thailand dan Vietnam.

Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, ada beberapa cara yang dapat dilakukan seperti intensifikasi dan ekstensifikasi.  Intensifikasi yaitu peningkatan produksi persatuan luas tertentu.  Intensifikasi dilaksanakan dengan cara menggunakan benih unggul bermutu; perbaikan pengolahan tanah; pemupukan yang tepat dosis, waktu dn cara; pengairan yang baik; pengendalian hama dan penyakit; dan panen yang baik dan tepat.  Ekstensifikasi yaitu perluasan areal pertanaman.  Ekstensifikasi dilaksanakan dengan cara pembukaan lahan usaha baru, pemanfaatan lahan tidur, pemanfaatan rawa, sawah tadah hujan dan lahan sawah beririgasi.

Pemanfaatan rawa, sawah tadah hujan dan lahan sawah beririgasi (lahan basah) untuk pertanaman kedelai dimungkinkan.  Namun pemanfaatan lahan basah akan menemui beberapa faktor pembatas utama yaitu drainase yang buruk.  Lahan basah seperti itu dapat ditanggulangi dengan cara membuat parit drainase.  Permasalahan lain penggunaan lahan basah adalah banyaknya gulma yang tumbuh terutama pada saat lahan tersebut dalam kondisi tidak tergenang.

Kedelai tidak membutuhkan air yang banyak untuk pertumbuhannya.  Air dalam kondisi tergenang akan menghambat pertumbuhan tanaman kedelai bahkan dapat mematikan tanaman akibat aerasi yang buruk.  Ketika lahan basah diperbaiki aerasenya kedelai dapat tumbuh dengan baik, naum gulma juga tumbuh dengan baik pula.  Pengendalian gulma secara mekanis dapat dilaksanakan namun mahal sehingga tidak ekonomis.  Umumnya petani bercocok tanam kedelai dalam skala luas karena bertujuan komersial.  Selain itu petani kedelai umumnya bermodal lemah dan tenaga kerja terbatas, sehingga memerlukan teknologi budidaya yang tingkat efisiensinya tinggi.  Upayayang efektif dan efisien dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai dilahan basah salah satunya adlah dengan menggunakan herbisida selektif.

Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan uji berbagai jenis herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma di pertanaman kedelai di lahan basah dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.

METODOLOGI PENELITIAN

Percobaan ini  dilaksanakan di pada lahan sawah tadah hujan Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu.  Penelitian dilaksanakan bulan Januari – April 2007.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 8 (delapan macam perlakuan herbisida.  Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.  Perlakuan herbisida tersebut meliputi:

A         =  Agristar

B         =  Ally Plus

C         =  DMA 6

D         =  Metafuron

E         =  Agristar dan DMA 6

F          =  Agristar dan Metafuron

G         =  Ally Plus dan DMA 6

H         =  Ally Plus dan Metafuron

Herbisida pra tanam Agristar dan Ally Plus disemprot pada permukaan tanah satu hari menjelang benih ditanam.  Perlakuan dengan herbisida agristar tersebut adalah perlakuan A, E dan F.  perlakuan dengan herbisida Ally Plus tersebut adalah perlakuan B, G dan H.  konsentrasi herbisida yang digunakan adalah 2 ml/l air.  Jumlah cairan yang dihabiskan adalah 300 ml/l air untuk petakan 6 m2

Sebelum benih ditanam, lahan disemprot dengan herbisida pra tanam.  Herbisida purna tumbuh yaitu herbisida DMA6 dan Metafuron disemprot sesuai dengan petak perlakuannya pada umur kedelai 6 minggu setelah tanam (MST).  Herbisida DMA6 untuk perlakuan C, E dan G, dan herbisida Metafuron untuk perlakuan D, F dan H.  Konsentrasi herbisida yang digunakan 2 ml/l air.  Jumlah cairan yang dihabiskan adalah 300 ml/6 m2.

Pengamatan kedelai dilakukan pada tanaman sampel yang ditentukan yaitu 5 populasi tanaman tengah.  Sedangkan gulma pada dua petak sampel berukuran 50 x 50 cm atau 2500 cm2.  Peubah yang diamati adalah: (1) Tinggi tanaman (cm), (2) Jumlah Polong Bernas (polong), (3) Jumlah polong (polong), (4) Berat Biji Kering Pertanaman (g), (5)  Berat 100 biji (g), (6) Berat Kering Biji Perpetak (g), (7) Populasi gulma (Populasi /2500 cm2), (8), Berat Kering Gulma (g/2500 cm2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh berbagai herbisida terhadap pertumbuhan gulma disajikan pada Tabel 1 dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan basah disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1.  Pengaruh Berbagai jenis Herbisida terhadap pertumbuhan Gulma pada pertanaman kedelai di lahan basah tadah hujan

Perlakuan

Populasi Gulma

Berat Kering Gulma

A  =  Agristar

B  =  Ally Plus

C  =  DMA6

D  =  Metafuron

E =   Agristar dan  DMA6

F =  Agristar dan  Metafuron

G  =  Ally Plus dan DMA6

H  =  Ally Plus dan Metafuron

10,5 a

10,3 a

9,7 a

10,7 a

3,0 b

3,5 b

2,8 b

3,5 b

22,0 a

20,3 a

19,7 a

20,7 a

9,0 b

9,0 b

8,0 b

9,0 b

Keterangan:  Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda  tidak nyata pada taraf uji DMRT 0,05

Tabel 1 memperlihatkan bahwa perlakuan berbagai jenis herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap populasi gulma dan berat kering gulma.  Peubah populasi gulma dan berat kering gulma mewakili pertumbuhan gulma setelah dilakukan penyemprotan.  Setelah dilakukan uji lanjut Duncan’t (DMRT) ternyata populasi dan berat kering gulma tertinggi terjadi pada perlakuan penyemprotyan herbisida pra tanam saja dan purna tumbuh saya (Perlakuan A, B, C dan D).  Perlakuan ini berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi antara pra tanam yang dilanjutkan dengan perlakuan herbisida  purna tumbuh yang dapat menurunkan berat kering sampai 50% dan populasi gulma 60%.  Pengurangan populasi dan berat kering gulma ini berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan basah.

Tabel 2. Dampak aplikasi berbagai jenis herbisida terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai lahan basah tadah hujan

PERLAKUAN

Tinggi Tanaman

Jumlah Polong Bernas

Jumlah Polong per tanaman

Berat biji kering pertanaman

Berat kering biji per petak

A  =  Agristar

B  =  Ally Plus

C  =  DMA6

D  =  Metafuron

E =   Agristar dan

DMA6

F  =  Agristar dan

Metafuron

G =  Ally Plus dan  DMA6

H =  Ally Plus dan

Metafuron

66,80 d

60,13 c

57,47 b

53,27 a

79,80 e

88,87 f

127,00 h

100,80 g

69,00 d

51,33 c

38,66 b

36,00 a

94,67 e

101,67 f

133,33 h

115,67 g

77,33 d

58,00 c

46,00 b

42,67 a

106,67 e

114,33 f

147,67 h

128,33 g

10,06 c

7,57 b

5,86 a

5,75 a

13,49 d

14,42 e

18,72 g

16,33 f

147,67 d

111,67 c

86,40 b

80,60 a

198,33 e

212,00 f

275,33 h

240,33 g

Keterangan:  Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda  tidak nyata pada taraf uji DMRT 0,05

Populasi dan berat kering gulma yang lebih banyak dan tinggi pada perlakuan yang hanya menggunakan herbisida pra tanam saja atau purna tumbuh saja menyebabkan tanaman kedelai tertekan akibat kompetisi antara kompetisi gulma dan kedelai.  Penyemprotan dengan herbisida pra tanam menyebabkan kompetisi terjadi pada pertengahan sampai panen, sedangkan penyemprotan dengan herbisida purna tumbuh mengakibatkan kompetisi gulma dan kedelai terjadi pada awal pertumbuhan.  Sastoutomo (1990) menyebutkan bahwa gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada tempat dan waktu yang tidak diinginkan, karena tumbuhan tersebut dapat merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung.  Kerugian secara langsung terjadi akibat kompetisi yang dapat menurunkan kuantitas maupun kualitas dari hasil panen.  Sedangkan kerugian secara tidak langsung karena gulma dapat berfungsi sebagai inang bagi hama dan penyakit tanaman.

Kompetisi bisa terjadi di atas permukaan tanam seperti kompetisi dalam pengambilan cahaya dan CO2 dan kompetisi dibawah tanah yaitu kompetisi dalam pemanfaatan ruang, air dan unsur hara (Moenandir, 1990).  Kompetisi terjadi bila dua individu atau lebih membtutuhkan sarana tumbuh yang sama, sementara sarana tumbuh tersebut terbatas.  Ditambahkan oleh Sukman dan Yakup (1991), bahwa kepadatan gulma menentuklan persaingan dan menentukan produksi tanaman.

Gulma yang dominan di pertanaman kedelai di lahan sawah setelah disemprot dengan herbisida pratumbuh dan sebelum penyemprotan herbisida purnatumbuh  adalah Cyperus iria L., C. diformis L., C rotundus L. Fimbristylis littoralis L., Monochorium vaginalis (Burm. F), Echinochloa colonum L., E. crusgalli L., dan Leersia hexandra L.  Setelah perlakuan herbisida pratumbuh dilanjutkan dengan purna tumbuh maka gulma yang dominan adalah E. colonum L., E. crusgalli dan Leersia hexandra.

Dampak aplikasi herbisida terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai  pada Tabel 2 memperlihatkan bahwa tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan herbisida pra tanam  Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) yaitu 127,00 cm.    Tinggi tanaman terendah terjadi pada perlakuan penyemprotan herbisida purna tumbuh Metafuron (D) yaitu 53,27 cm.    Hal ini  besar kemungkinan disebabkan karena perlakuan herbisida pra tanam Ally plus, yang diikuti perlakuan herbisida purna tumbuh  6 minggu setelah tanam (G) gulma sangat tertekan pertumbuhannya sehingga memungkinkan kedelai tumbuh dengan baik.  Rendahnya tinggi tanaman pada perlakuan penyemprotan herbisida Metafuron (D) diduga disebabkan sewaktu masa pertumbuhan aktif kedelai (0-6 minggu setelah tanam) terjadi kompetisi antara tanaman kedelai dengan gulma, karena tidak dilakukan penyemprotan herbisida pra tumbuh yang mampu menekan biji-biji gulma untuk berkecambah.  Ketika itu pertumbuhan tanaman menjadi terhambat pertumbuhan tingginya.  Hal ini bisa dilihat pada Tabel 1 bahwa pada perlakuan herbisida Metafuron populasi gulma dan berat kering gulmanya tertinggi.

Tabel 2 juga  memperlihatkan fenomena yang sama untuk peubah hasil kedelai yaitu jumlah polong bernas, jumlah polong, berat biji kering pertanaman, berat kering biji perpetak yaitu berpengaruh sangat nyata setelah diperlakukan dengan berbagai jenis herbisida.  Setelah dilakukan uji lanjut berganda Duncan’t (DMRT), ternyata memperlihatkan pola yang sama pula yaitu perlakuan dengan herbisida pratumbuh Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) memberikan komponen hasil tertinggi.  Hal ini menunjukkan bahwa  perlakuan dengan herbisida tunggal saja, apakah itu pra tanam ataupun purna tumbuh, belum cukup dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai dilahan basah, sehingga berdampak pada komponen hasil kedelai.  Perlakuan dengan herbisida pra tanam Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) ternyata lebih efektif bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya meskipun disemprot dengan herbisida pra tanam dan purna tumbuh.  Tabel 1 memperlihatkan ternyata benar bahwa perlakuan dengan hanya menggunakan herbisida tunggal saja memberikan jumlah populasi gulma dan berat kering gulma yang jauh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

KESIMPULAN

Perlakuan berbagai jenis herbisida berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai dilahan basah serta terhadap pertumbuhan gulma. Penyemprotan dengan herbisida pra tanam saja (Ally plus dan Agristar) atau dengan herbisida purna tumbuh saja (DMA6 dan Metafuron) tidak efektif dalam mengendalikan gulma dipertanaman kedelai dilahan basah. Penyemporotan herbisida pra tanam Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) lebih efektif dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai di lahan basah dibandingkan dengan herbisida lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2004.  Bengkulu Dalam Angka 2003.  BPS. Propinsi Bengkulu.

Moenandir, J.  1990.  Teknik pengendalian Gulma.  Rajawali Press, Jakarta.

Sasroutomo. 1990.  Ilmu Gulma.  Rajawali Press, Jakarta.

Sukman, Y dan Yakup. 1991.  Gulma dan Teknik Pengendaliannya, Rajawali Press, Jakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: