GERAKAN PEMUDA DAN FENOMENA KEKINIAN

Oktober 30, 2009

GERAKAN PEMUDA DAN FENOMENA KEKINIAN

Oleh : Risvan Anwar

Pemuda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan sosial Indonesia pada umumnya, karena pemuda Indonesia adalah ahli waris cita-cita bangsa yang syah dan sekaligus adalah generasi penerus yang ikut meletakkan dasar-dasar kemerdekaan bangsa Indonesia, dengan melewati suatu simponi perjuangan yang panjang.

Sejarah politik Indonesia telah memaknai esensi gerakan pemuda sedikit demi sedikit telah mengalami pergeseran paradigma. Dalam konteks kekinian, peran-peran pemuda mulai kehilangan ruh dan komitmen gerakan di tengan-tengah persoalan bangsa yang sangat komplek dan mendalam. Lebih parah lagi, beberapa organisasi kepemudaan yang notabene diharapkan menjadi kekuatan bangsa, justru menjadi alat untuk meraih kepentingan pribadi dengan menghalalkan berbagai macam cara.

Kaum muda masa kini kurang berpotensi sebagai agen perubahan atau pembaruan sebab mereka berjuang penuh pamrih. Akibatnya, saat target obsesi pragmatisme tak tercapai, yang muncul menyumpah-serapahi para pemimpin. Semakin lama, Sumpah Pemuda seolah-olah berubah menjadi sampah. Itu terefleksi dari pudarnya nilai-nilai dan karakter kebangsaan serta lunturnya idealisme, moralitas, bahkan spiritualitas.

Padahal, nilai-nilai itulah yang terbukti telah melahirkan sumpah bertuah pada 28 Oktober 1928. Spirit perjuangan yang menyemangati Sumpah Pemuda adalah kesadaran yang tinggi tanpa pamrih, bertemunya kecendekiaan dengan peran nyata dari kaum muda, dan peran kontekstual pemuda yang menentukan kepeloporan arah perjuangan bangsa saat itu.

Pertanyaannya, di manakah pengertian dan kesadaran pemuda masa kini untuk bersatu; di manakah keterpanggilan sosial dan kemanusiaannya di tengah kondisi rakyat kecil yang sangat memprihatinkan dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang kian meningkat? Juga di manakah peran kepeloporan pemuda kita yang disertai ketulusan berkorban demi cita-cita kebangsaan dan kenegaraan untuk menuju kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan beradab dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Dalam wacana dialektis, deviasi gerakan organisasi kepemudaan sudah memasuki ranah simbolik “menara air” dan “manara gading”. Sebagai menara air organisasi pemuda di pandang sebagai etalase kepentingan yang bernuansa politis, sehingga dapat dimainkan dinamikanya oleh siapa saja, baik oknum di dalam maupun di luar kelembagaan dan kesisteman yang mempunyai kepentingan. Sebagai menara gading, organisasi pemuda di posisikan sebagai tempat yang eksklusif dan elistis sehingga terasa ada sebuah tirai yang membatasi dengan masyarakat luas.

Dalam konteks kebangsaan, peran-peran pemuda juga dihadapkan dengan realitas bangsa Indonesia secara umum yang telah menunjukkan rapuhnya sendi-sendi kebangsaan seperti: suburnya korupsi dan penggusuran, kemelut politik yang tak kunjung usai, terjualnya aset-aset kekayaan rakyat, hutan dan lautan di ganti menjadi lahan kering, sungai menjadi tong sampah, ancaman disintegrasi bangsa, miras / narkoba dan free sex menggantikan peran-peran agama, jumlah pengangguran dan anak jalanan meningkat tajam, penjualan wanita dan anak kian marak, LSM menjual data potensi kepada pihak asing, media lebih menjadi alat propaganda ketimbang mengungkap fakta, tampilnya orang terlalu kaya di negeri yang miskin, sulitnya hidup di negeri sendiri, lebih mencintai produk berlabel asing dari pada label lokal, lahirnya generasi tanpa kepadulian, serta hilangnya kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Sementara, tantangan globalisasi dengan ancaman kapitalisme dan imperealisme hampir tak mampu dihindarkan, yang pada akhirnya akan menghancur leburkan bangunan peradaban Indonesia.

Rekonstruksi Gerakan Pemuda

Gerakan pemuda saat ini terlihat sangat ideologis dan pragmatis, bahkan hedonis dan materialistis. Gerakannya tidak fokus, tidak progresif, tidak memiliki visi bersama, bahkan terkotak-kotak sebab tidak memiliki arah yang jelas dengan artikulasi politik yang bisa ditafsirkan sebagai media proses pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, gerakan pemuda perlu segera direvitalisasi agar bisa menjawab berbagai permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.

Perlu adanya revitalisasi etos dan visi gerakan pemuda kekinian. Caranya, menguatkan kembali etos gerakan kepemudaan atas dasar spirit kepedulian, keprihatinan, dan kompetisi sehat dengan berlandaskan pluralisme dan kondisi multikulturitas bangsa. Selain itu, perlu menciptakan gerakan pemuda yang berpijak pada rasionalitas dan berorientasi kemandirian, serta kemampuan analisis sosial terhadap realita empiris yang menjadi fenomena kontemporer agar aktivitas kepemudaan selalu up to date.

Kiprah dari banyak organisasi kepemudaan sebagai tempat berhimpunnya kaum muda, kini harus dievaluasi kembali. Yang jelas, banyak organisasi kepemudaan yang belum dapat melahirkan satu model pemikiran yang mampu menunjang arah perubahan perpolitikan nasional yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Demikian halnya organisasi kepemudaan dan atau kemahasiswaan lainnya, dewasa ini tampak kurang memiliki artikulasi pemikiran politik perjuangan yang jelas dan memadai untuk konteks anak zamannya.

Substansi pemikiran dan pesan moral di dalam gerakan pemuda kita saat ini begitu sempit, bahkan hampa dari makna moralitas pergerakan yang semestinya. Padahal, sebuah peradaban yang unggul dimulai dari munculnya pemikiran-pemikiran besar. Karena itu, gerakan intelektual khususnya dari para pemuda, pelajar, dan mahasiswa harus segera dibangkitkan agar mampu melahirkan pemikiran-pemikiran besar untuk menciptakan perubahan dan pembaruan dalam berbagai bidang sesuai dengan tuntutan reformasi.

Tantangan pemuda sebagai tulang punggung bangsa Indonesia dalam menghadapi realitas demikian bukan hal yang mudah. Hendaknya gerakan pemuda harus mulai melakukan rekonstruksi guna meneguhkan kembali komitmen gerakan di mulai dengan pencerahan moralitas guna membangun kasadaran aksional, sehingga akan terbentuk pemuda yang mampu membangun peradaban dengan menjunjung tinggi harkat kemanusiaan, nilai-nilai demokrasi, keadilan, persamaan dan kejujuran.

Pencerahan moralitas, merupakan suatu keharusan guna membangun peradaban yang lebih baik. Moral menempati posisi yang sangat fundamental guna terciptanya perubahan. Kemajuan peradaban suatu bangsa, akan menjadi tidak berarti ketika tidak memiliki akhlak atau etika. Sungguh, suatu bangsa akan tegak selama bangsa tersebut mampu menegakkan moralitas, bila tidak maka akan rusak dan binasalah bangsa itu.

Suatu upaya pencerahan atau gugatan mengenai paradigma dan komitmen dari gerakan pemuda dengan maksud self renewal selamanya penting, relevan dan aktual. Oleh sebab itu, pemuda hendaknya senantiasa kritis, idealis dan realis terhadap fenomena yang muncul, sehingga gerakan pemuda akan mampu menemukan perannya bagi peningkatan integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Corak demikian menjadi vital ketika bersinggungan dengan berbagai tuntutan revitalisasi dan reaktualisasi pada perspektif semangat dan orientasi kejuangan.

Terjadinya pergeseran paragdigma yang terjadi pada gerakan pemuda tersebut, harus di sikapi bersama guna meluruskan kembali ruh dan komitmen kebangsaan dengan mengedepankan nilai-nilai moralitas bangsa. Setidak-tidaknya peran-peran tersebut di petakan dalam agenda kultural yang aksentuasinya mengedepankan: pertama, gerakan pencerahan dan penyadaran kebangsaan, advokasi dan pembelaan terhadap kemanusiaan dan kebenaran. Akses dari gerakan ini meliputi dimensi sosio kultural. Kedua, menjadikan kekuatan korektif dan alternatif dalam perspektif kebangsaan. Ketiga, menjadi gerakan yang sarat dengan wacana diversifikasi pemikiran. Keempat, menjadikan gerakan pemuda sebagai ajang kreativitas kondusif bagi pengembangan Sumber Daya Manusia yang credible dan inovatif.

Namun untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya upaya pemahaman yang dalam dan pemahaman yang tinggi yakni pemahaman yang membutuhkan interpretative berdasar aktual dan tekstual, sehingga upaya perumusan diperlukan analisa yang tajam berdasar nilai idealis dan realis, bukan perspektif kepentingan.

Pemuda, dimanapun mereka berwadah, perlu melakukan kajian-kajian cerdas dan progresif dengan melibatkan semua jajaran pemuda sebagai upaya untuk mempertegas komitmen dan nilai moralitas gerakan kepemudaan di tengah rapuhnya sendi-sendi kebangsaan. Tanpa itu semua, slogan pemuda sebagai kreator dan penggerak pembangunan peradaban bangsa hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Hendaknya pemuda harus menjadi saksi dan pelaku terhadap historitas kemanusiaan dan keadilan di negeri ini. Dengan kesaksian tersebut, di harapkan keterlibatan secara langsung dengan masalah-masalah kemanusiaan, mulai dari komunitas di mana ia tinggal, karena secara teologis, cita-cita moral tersebut bersifat mutlak “abadi“ universal. Oleh sebab itu kesadaran yang di bangun adalah kesadaran yang bersifat holistic, setubuh, tidak hanya perspektif golongan namun seluruh umat manusia bahkan alam semesta, meliputi sekaligus malampaui, sebagai konsekwensi penterjemahan esensi gerakan moralitas dan moralitas gerakan yang harus dibumikan kedalam pergulatan kemanusiaan secara dialektis dan epistemis.

Deskripsi Diri-Serdos

Oktober 30, 2009



LAMPIRANÂ P.V

TUTWURI2

INSTRUMEN SERTIFIKASI DOSEN

Deskripsi Diri

IDENTITAS DOSEN

1. Nama Dosen yang Dinilai

:

Ir. Risvan Anwar, M.Si

2. NIP/NIK/NRP

:

131 885 596

3. Perguruan Pengusul

:

Kopertis Wilayah II/ Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH

4. Nomor Peserta

:

091137411540008

5. Â Rumpun/Bidang Ilmu Yang Disertifikasi

:

Ilmu Tanaman/Budidaya Pertanian dan Perkebunan

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2009


Lembar Deskripsi Diri

Pendahuluan

Lembar Deskripsi Diri merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam proses Sertifikasi Dosen Dalam Jabatan sebagai bagian tidak terpisahkan dari Portofolio Dosen. Lembar Deskripsi Diri digunakan sebagai alat bagi dosen untuk menjelaskan keunggulan atau kebanggaan pribadi seorang dosen atas prestasi dan/atau kontribusi yang telah dilakukan dalam menjalankan karirnya sebagai dosen, khususnya terkait dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Lembar Deskripsi Diri (dosen) dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berkenaan dengan prestasi dan kontribusi dosen dalam kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, yang dinyatakan dalam bentuk kegiatan pengajaran, penelitian, manajemen pendidikan, pengelolaan mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, bagian kedua menjelaskan prestasi atau kontribusi dosen yang berkenaan dengan kompetensi sosial dan kompetensi kepribadiannya, yang dilihat dari aspek kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi, etos kerja, integritas, keteladanan, keterbukaan, kerjasama, serta kreativitas dan inovasi.

Dosen diminta membuat esai untuk setiap kegiatan di bagian pertama dan setiap aspek pada bagian kedua, sehingga akan sangat unik dan berbeda dari satu dosen dengan dosen yang lain. Kemudian, dosen akan diminta melakukan penilaian secara objektif terhadap informasi dalam esai tersebut, menggunakan rubrik yang disediakan. Hasil penilaian akan diverifikasi Sertifikator. Oleh sebab itu objektivitas dosen menilai diri sendiri sangat menentukan dan dapat menjadi gambaran kejujuran profesional dosen.

Rubrik atau Panduan Penilaian Lembar Deskripsi Diri dosen memberikan rambu-rambu penilaian kualitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan dosen berkenaan dengan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, serta untuk setiap aspek yang menggambarkan kinerja dosen dari sisi kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian.  Rambu-rambu penilaian dibuat dalam bentuk “semantic differential” dengan satu (atau lebih) deskriptor untuk setiap kegiatan atau aspek, dilengkapi dengan nilai interval dari setiap deskriptor. Deskriptor terdiri dari satu pasang kata sifat yang saling berlawanan untuk mendeskripsikan sisi negatif atau positif dari sifat yang diterapkan. Nilai interval terdiri dari 1-5 di mana 1 berarti nilai paling rendah dan 5 berarti nilai paling tinggi.


BAGIAN I

Uraikan apa saja yang telah Anda lakukan dalam beberapa tahun terakhir yang dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal berikut.

A. Pengembangan Kualitas Pembelajaran (usaha dan dampak perubahan)

Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan bagaimana dampaknya!

Saya menyadari bahwa saya mengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dimana mahasiswanya adalah hasil penerimaan mahasiswa yang sudah “terseleksi”. Mereka masuk Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu setelah mereka tidak diterima di perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi terkenal lainnya. Tidaklah mudah mengajar mereka agar mereka betul-betul mengerti dan paham dengan apa yang saya ajarkan. Saya melihat banyak dari mereka yang pasif dalam mendalami bidang ilmu yang semestinya mereka kuasai. Mereka sepertinya berat untuk membeli buku-buku rujukan, literature-literatur pendukung atau mencari sumber informasi lainnya. Mereka cenderung hanya untuk sekedar lulus dan memperoleh nilai bagus. Sepertinya tidak penting bagi mereka untuk benar-benar memahami dan memperoleh manfaat dari mata kuliah yang diajarkan. Menyadari hal ini maka disetiap awal perkuliahan saya selalu menyampaikan pada mahasiswa apa manfaat dari materi kuliah yang sedang dipelajari ini, apa yang harus mereka ketahui dan pahami. Saya minta mereka mencatat atau saya buatkan catatan dalam bentuk slide, hand out, atau diktat atau kopian bagian buku yang diajarkan. Diakhir perkuliahan saya tanyakan kembali hal-hal yang harus mereka ketahui dan pahami. Untuk memperkaya pengetahuan mereka  saya juga memberi tugas-tugas seperti membuat paper (makalah) dan membuat ringkasan dari bagian buku. Tugas-tugas tersebut dipresentasikan didepan kelas, didiskusikan. Praktikum dan kunjungan lapangan juga dilaksanakan sesuai dengan tuntutan mata kuliah yang saya ampu. Untuk mengetahui sajauh mana kemampuan pemahaman mereka maka saya memberikan quiz, ujian mid semester, ujian semester dan ujian praktikum (Responsi). Penilaian yang saya berikan tidak hanya berasal dari quis atau ujian-ujian tadi tetapi juga dari kualitas tugas-tugas, laporan-laporan, keaktifan dalam diskusi dan kehadiran dalam mengikuti perkuliahan.

Dampak dari cara-cara yang saya berikan, mahasiswa lebih aktif, lebih bersemangat, lebih rajin mengikuti perkuliahan dan lebih rajin mencari dan membaca literatur baik di perpustakaan maupun melalui internet atau sumber-sumber lain. Diskusi-diskusi atau presentasi tugas mendorong mereka terlatih berbicara dan berargumentasi secara sistematis dan rasional. Praktikum membuat mereka lebih mengenal, lebih memahami fenomena-fenomena nyata dilapangan, memperkuat teori yang mereka pelajari dan lebih terampil. Prestasi mahasiswa meningkat, ini bisa terlihat dari sebaran nilai ujian yang mereka peroleh dan kualitas tugas mahasiswa.

B. Pengembangan Keilmuan/Keahlian Pokok (produktivitas dan makna karya ilmiah)

Jelaskan karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana keterkaitannya dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya ilmiah (dan jurnalnya) Saudara!

Sejak saya menjadi dosen sampai memiliki jabatan fungsional Lektor Kepala sekarang ini telah cukup banyak penelitian yang saya lakukan. Penelitian tersebut ada yang dibiayai oleh Dikti, ada yang dibiayai oleh lembaga Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH (Unihaz) dan ada yang mandiri. Hasil-hasil penelitian tersebut saya publikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah baik yang dimiliki oleh Unihaz dimana saya bertugas, juga perguruan tinggi swasta dan perguruan tinggi negeri lainnya serta jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat. Saya juga cukup aktif menulis artikel di media-media massa (koran) yang terbit di Bengkulu. Saya juga sering sebagai pembicara di forum-forum ilmiah dan sebagai pemateri pada pembengkalan/pelatihan dari instansi-instansi pemerintah. Sejak saya studi S2 saya sangat tertarik pada bidang Ilmu Gulma dan penanggulangannya. Hal ini dikarenakan 15 – 60% biaya usaha tani terserap pada permasalahan penanggulangan gulma ini. Oleh karena itu karya penelitian saya cenderung mengenai Gulma dan penanggulangannya. Obsesi saya adalah ingin menemukan bioherbisida yang murah dan efektif menanggulangi gulma dari pemanfaatan alelopati dan memperkuat kompetisi tanaman terhadap gulma. Sekarang saya sudah mengajukan proposal Hibah Bersaing untuk memperoleh pembiayaan. Hampir setiap kegiatan penelitian saya melibatkan mahasiswa, maksudnya selain dapat meningkatkan wawasan dan kemampuan mahasiswa dibidang penelitian, juga dapat mengurangi beban biaya penelitian mereka dalam penyusunan skripsi.

Bagi saya, sebuah karya akan bermakna kalau dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Saya berharap karya saya dapat mejadi bahan renungan, jadi inspirasi, penuntun dan dapat membantu untuk perubahan hidup yang lebih positif.  Oleh karena itulah hampir semua hasil penelitian dan hasil pemikiran saya publikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah, dalam bentuk artikel di media-media massa, dan juga disampaikan pada forum-forum ilmiah serta materi pengabdian pada masyarakat.

    Beberapa Penelitian/karya ilmiah/makalah:

No

Nama Judul Penelitian/Karya Ilmiah/Makalah

Keterangan

1.

Uji berbagai pola tanam nilam-kedelai untuk menghindari pengaruh allelopati nilam

Peneliti Muda Dikti, 1999.

2.

Uji berbagai herbisida terhadap gulma dan pengaruhnya pada pertumbuhan dan hasil padi sawah system tebar langsung

Jurnal Agroqua ISSN No.0216-8585 Vol.3 No.2 Desember 2005

3.

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma dilahan perkebunan sawit

Jurnal Agroqua ISSN No.0216-8585 Vol.4 No.1Â Juni 2006

4.

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma tanaman karet

Jurnal Raflesia ISSN 1411-2434 Vol. 11 No. 1 Januari 2008

5.

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma pada pertanaman kedelai di lahan basah

Jurnal Raflesia ISSN 1411-2434 Vol. 12 No. 2Â Juli 2008

6.

Percepatan pembangunan kabupaten Mukomuko untuk lepas dari predikat kabupaten tertinggal

Harian Berita Marlborough, 17 – 22 Mei 2006 (berseri)

7.

Bertanam jarak untuk penyelamatan Negara dari krisis

Harian Rakyat Bengkulu, 29 Agustus 2006

8.

Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP.DAS) Ketahun, Bengkulu. (Pembengkalan LSM Pendamping Gerhan)

9.

Meningkatkan Kesejahteraan Petani Padi Sawah

Mukomuko Pos, 24 Februari, 2008

10.

Pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Mukomuko Pos, 4 Maret 2008

11.

Gerakan Pemuda dan Fenomena Kekinian

Makalah Seminar Kepemudaan, 25 Oktober 2008. KNPI Mukomuko bekerjasama dengan Dinas Diknas Kab. Mukomuko

12

Menemukan bioherbisida dengan formulasi dan dosis aktif yang efektif mengendalikan gulma padi sawah Echinochloa crus-galli melalui pemanfaatan alelopati

Sedang diusulkan untuk mendapat Hibah Bersaing, DP2N Dikti 2009.

C. Peningkatan Kualitas Manajemen/Pengelolaan Institusi (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan manajemen pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

Saya menjadi Dekan Fakultas Pertanian Unihaz selama dua periode. Periode pertama Dekan Pergantian Antar waktu (2000 – 2002), Periode kedua tahun 2002 -2006. Selama menjadi Dekan banyak perubahan pengelolaan yang saya lakukan. Selama ini kurikulum di Fakultas Pertanian belum berbasis kompetensi telah menjadi berbasis kompetensi. Selama ini hampir tidak ada upaya-upaya pengembangan/memperkaya silabus, selama kepemimpinan saya meminta setiap dosen agar mengembangkan/memperkaya silabus mata kuliah yang mereka asuh setiap tahunnya. Sebelumnya belum ada perhatian dari pimpinan fakultas agar setiap dosen diawal semester membuat Rencana Kegiatan Belajar Mengajar (RKBM), di jaman saya RKBM tersebut menjadi kewajiban. Selain itu kami juga memonitor serta mengevaluasi setiap semester proses balajar mengajar di Fakultas Pertanian Unihaz. Hasil monitoring dan evaluasi dibawa kedalam rapat dosen dan karyawan setiap awal semester untuk perbaikan diwaktu yang akan datang. Saya juga mengirim dosen/pimpinan fakultas/jurusan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, lokakarya-lokakarya yang berkenaan dengan peningkatan kualitas perguruan tinggi, dosen dan lulusan. Selain itu saya juga pengembangan kerjasama dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi lain dan lembaga/perusahaan swasta.Â

Implementasi dari kebijakan perubahan tersebut terlihat perbaikan akan kesungguhan dosen dalam proses belajar mengajar, mulai dari persiapan sampai evaluasi. Terukur keberhasilannya karena instrumentnya telah dibuat. Silabus mata kuliah yang semakin berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu terbentuk atmosfir akademik yang lebih baik. Mutu lulusan semakin meningkat. Semua ini sangat bermanfaat bagi kemajuan lembaga.

Upaya-upaya perubahan tersebut tersebut mendapat dukungan dan apresiasi dari mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas/jurusan dan rektorat karena bermanfaat bagi kemajuan institusi. Â Dukung pihak rektorat ini terlihat dari alokasi anggaran untuk fakultas pertanian yang semakin meningkat, diberi bantuan untuk mengikuti pelatihan, lokakarya dan seminar-seminar. Kebijakan seperti tersebut berlanjut sampai sekarang.

D. Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

Saya sangat terobsesi, kiranya lulusan fakultas pertanian Unihaz memiliki jiwa kewirausahaan. Oleh kerena itu ketika saya menjadi Dekan, saya mengusulkan untuk memasukkan mata kuliah kewirausaan dalam kurikulum semua program studi yang ada di Fakultas Pertanian Unihaz yang saya pimpin. Keinginan saya ini didukung oleh Senat Fakultas, karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan institusi. Selain itu untuk lebih menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa mereka juga perlu latihan kewirausahaan. Mahasiswa saya bagi dalam beberapa kelompok usaha bersama dan dibimbing oleh seorang dosen pembimbing.

Dalam implementasi kebijakannya, mereka dilatih untuk merencanakan, mengelola dan memasarkan hasil usaha bersama dengan bimbingan dosen. Usaha yang dikembangkan mahasiswa adalah pupuk bokasi, pupuk kascing, bibit bunga-bungaan, bibit kelapa sawit, jasa laboratorium, jasa analisis data, ikan hias, ikan konsumsi, akuarium dan pakan ikan. Semua produk itu berlabel Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu. Kami juga melaksanakan pameran, walau tidak rutin setiap tahun. Selain memamerkan hasil usaha dan karya mahasiswa, kami juga mengundang kelompok tani, penangkar, distributor dan hobies lainnya. Selain itu kami juga mengikuti pameran yang diselenggarakan pemerintah dan instansi lainnya. Upaya ini membuat mahasiswa tumbuh dan berkembang jiwa kewirausahaannya.

Upaya-upaya tersebut diatas mendapat dukungan penuh mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas/ jurusan dan rektorat karena sangat bermanfaat. Wujud dukungan Rektor kami diberi bantuan dan pinjaman modal untuk mengembangkan jiwa kewirausaan mahasiswa. Mahasiswa menjadi kreatif, inovatif dan berwawasan. Mahasiswa menjadi betah berlama-lama dikampus dan tersalurkan minat dan bakatnya.

E. Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat (kegiatan dan implementasi perubahan, serta dukungan masyarakat)

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

Beberapa tahun terakhir ini saya merasakan bahwa penyuluhan yang saya laksanakan di masyarakat kurang bermanfaat bagi masyarakat. Apa yang saya sampaikan banyak yang kurang dimengerti. Teknologi yang disuluhkan kurang mendapat tanggapan, padahal teknologi ini sangat bermanfaat bagi kesejahteraan mereka, ini terlihat kurangnya masyarakat yang mau menerapkannya. Menyadari hal ini saya merubah pola penyuluhan saya. Saya lebih menekankan pada bimbingan teknis dari pada ceramah di ruangan. Saya ajak masyarakat untuk mengumpulkan bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan, lalu mereka dituntun cara membuatnya. Cara seperti ini ternyata lebih mudah diterima mayarakat. Terlihat banyak masyarakat atau kelompok masyarakat yang menerapkan teknologi yang saya suluh.

Ketika saya memberikan penyuluhan tentang pemanfaatan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos, saya mendapat  kesulitan karena ibu-ibu rumah tangga membuang sampah baik organik maupun anorganik dalam satu lobang. Bila dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk kompos akan sulit memisahkannya. Kita membimbingkan mereka agar membuat dua petakan lobang di tanah ukuran 1 x 1 x 1 m berdekatan. Lalu memberikannya alas plastik. Satu lobang untuk sampah organik, satu lagi untuk sampah anorganik. Ketika sampah organik akan dimanfaatkan untuk dibuat kompos maka kita tinggal mengangkat dan memindahkan pada tempat dimana pupuk kompos di buat. Upaya sederhana ini dapat diterima masyarakat. Kini mereka telah menerapkan cara tersebut. Sedangkan sampah anorganik tinggal diangkat dan dibuang di tempat sampah umum. Selain itu saya berusaha memperbaharui teknologi yang akan disuluhkan pada masyarakat. Seperti dalam pembuatan pupuk organik dari sampah rumah tangga, awalnya bahan organik didekomposisi secara alami, kemudian untuk mempercepat ditambah dengan bakteri EM4, kemudian dengan Mikroorganisme lokal (MOL). Masyarakat juga diajari membuat MOL tersebut dan membuat kemasan pupuk organik tersebut agar mempunyai nilai jual.

Diperkotaan pekarangan rumah sangat sempit, namun pekarangan sempit tersebut bukan berarti kita tidak bisa bercocok tanam. sebenarnya dapat dicari teknologi hemat lahan yaitu dengan bercocok tanam secara vertical atau vertikultur. Selain itu kita juga bisa bercocok tanam dalam polibag atau pot. Namun banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut. Maka dicoba dilakukan penyuluhan dengan bimbingan teknis yang intensif di RT. 24 Kandangmas. Komoditi yang ditanam adalah sayur-sayuran seperti cabai, tomat, terong, sawi, bayam, kunyit dan jahe. Mula-mula kita buat tiga contoh di pekarangan rumah warga. Kemudian melalui ketua RT kita minta mengumpulkan masyarakat untuk dilakukan penyuluhan dan bimbingan. Warga kita bawa ke tempat contoh tadi dan kita jelaskan manfaat dan cara membuatnya. Bagi yang tertarik kita bantu cara bercocok tanam vertikultur dan dalam polipag atau pot. Mereka tertarik karena dapat memperindah pekarangan (taman) dan dapat dimanfaatkan menjadi sayuran. Upaya memanfaatkan pekarangan untuk bertanam sayur-sayuran dapat diterima masyarakat terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Ini terbukti banyak warga komplek menerapkan teknologi tersebut.

BAGIAN II

Sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada aspek-aspek berikut.

F. Karakter pribadi dalam berbagai situasi dan kondisi (kendali diri, kesabaran, ekspresi perasaan, rasionalitas)

Jelaskan karakter/kepribadian Saudara (pengendalian diri, kesabaran, empati, rasional) pada berbagai situasi! Berikan contohnya!

Saya merasa memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik dalam berbagai situasi dan kondisi yang menekan. Sewaktu saya mendapat pekerjaan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mukomuko untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Mukomuko yang waktu pelaksanaannya cuma 25 hari kerja. Dalam proses penyusunannya saya disulitkan dalam memperoleh data-data dari setiap instansi, karena mereka belum memiliki system kearsipan yang baik dan belum memiliki gambaran perencanaan lima tahun kedepan. Selain itu Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) sering tidak ada ditempat dan sebagian tidak memiliki wawasan rencana kedepan dari SKPD yang dipimpinnya. Maklumlah Kabupaten Mukomuko adalah kabupaten pemekaran dan Kepala SKPD-nya banyak diangkat dari Sumber Daya Lokal. Dalam waktu yang sangat terbatas saya dan tim terpaksa menyusun perencanaan lima tahunan beberapa dinas yang belum siap tersebut. Siang malam kami menyelesaikan dokumen RPJM tersebut, Alhamdulillah dengan kondisi dibawah tekanan seperti itu saya mampu mengendalikan diri. Pekerjaan saya dapat terselesaikan. Beberapa Kepala Dinas dan Kepala Kantor mengucapkan terima kasih kepada kami karena mereka telah diberi wawasan dalam perencanaan yang baik.

Saya juga memiliki kemampuan untuk bersikap sabar yang baik dalam menghadapi berbagai hal yang tidak sesuai dengan harapan dalam berbagai situasi dan kondisi. Ketika saya memperoleh pekerjaan sebagai Tim Penilai Independen pengadaan bibit untuk program Gerakan Nasional Rehabilitas Hutan dan Lahan (Gerhan 2008) di propinsi Bengkulu, saya dihadapkan dengan pengusaha pengada bibit yang tidak bonafide dan konsisten dengan rencana kerjanya. Empat pengusaha pengada bibit tersebut menumpukkan bibit di titik-titik bagi yang tersebar disetiap kabupaten yang ada di Bengkulu menjelang akhir kontrak kerja dipertengahan Desember. Saya bersama rekan-rekan dan mahasiswa terpaksa kerja ekstra menilai bibit di berbagai tempat yang tersebar di sepuluh kabupaten/kota di propinsi Bengkulu dan menyusun laporan dalam waktu yang sangat terbatas. Alhamdulillah berkat kesabaran yang baik tidak terjadi konflik yang menajam dengan para pengusaha tersebut. Padahal kunci pencairan dana mereka pada kami LPI yaitu dana mereka akan cair bila telah dinilai oleh LPI.

Saya juga dapat merasakan berbagai perasaan orang lain dan mengekspresikan dengan baik. Salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi saya di deadline oleh keluarganya harus wisuda bulan juni ini. Informasi ini disampaikan kepada saya pada bulan Desember 2008 yang lalu ketika yang bersangkutan konsultasi judul penelitian. Saya dapat merasakan kesulitannya. Orang tuanya hanya petani biasa, tinggal didesa. Dua adik perempuannya tidak melanjutkan kuliah. Satu adik laki-lakinya baru kuliah dan memerlukan biaya banyak karena kuliah di Jawa. Kalau dia bisa diwisuda bulan Juni ini berarti beban biaya orang tuanya dapat berkurang. Oleh karena itu saya anjurkan untuk penelitian yang memerlukan waktu singkat saja yaitu baby corn. Beliau sangat berterima kasih atas solusi yang saya berikan.

Saya merasa cenderung mengutamakan logika dari pada perasaan dalam menghadapi berbagai masalah. Ketika helm saya ‘dipinjam’ tanpa sepengetahuan saya oleh oknum mahasiswa saya sendiri (mungkin dia tidak tahu bahwa helm tersebut helm dosennya) pada suatu kegiatan kunjungan lapangan bimbingan dosen lain. Saya sempat kaget ketika mau pulang helm saya hilang. Saya lapor pada ketua jurusan dan satpam bahwa helm saya hilang dan saya mau pulang. Kebetulan saya tahu bahwa ada kunjungan lapangan mahasiswa hari itu dari bimbingan dosen lain. Saya minta dosen pembimbing tersebut untuk menyelidiki dan menanyakan ada tidak helm dengan ciri-ciri seperti ini dan itu dibawa mahasiswa, melalui sms. Ternyata ada. Saya minta segera menghadap saya besoknya dan mengembalikan helm saya. Besoknya mahasiswa yang bersangkutan menghadap saya, dan mengembalikan helm saya. Alasannya mengambil helm karena ada teman yang diboncengnya sedangkan helm cuma ada satu. Mau pulang ke rumah mengambil helm cadangan tidak memungkinkan lagi. Dia tidak tahu bahwa helm tersebut adalah helm saya.  Saya tidak marah-marah apa lagi sampai membentak. Saya menasehati mahasiswa tersebut, bahwa cara seperti itu merugikan orang lain. Saya katakan bahwa saya sampai tiga jam tidak bisa pulang gara-gara tidak memiliki helm. Mau membeli yang baru tidak memiliki uang. Mementingkan kepentingan pribadi (mencari selamat sendiri) dengan menzalimi orang lain itu perbuatan tidak baik. Saya sentuh perasaan bersalahnya, agar dia tidak mengulangi perbuatan tersebut pada siapapun. Dengan perasaan bersalah, menyesal mahasiswa tersebut memohon maaf. Tidak ada perasaan dendam dan keinginan untuk menzalimi mahasiswa tersebut. Akhir semester mahasiswa tersebut malah mendapat nilai A dari mata kuliah yang saya asuh, karena dia memang mampu. Tidak ada pengurangan nilai gara-gara mengambil helm saya.

G. Etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, ketangguhan)

Jelaskan etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan) dan bagaimana cara Saudara menghadapi masalah! Berikan contohnya!

Saya merasa memiliki semangat kerja yang tinggi dalam berbagai situasi dan kondisi. Selama saya menjadi Dekan hampir tidak satupun pekerjaan yang terbengkalai. Tugas-tugas sebagai Dekan sekaligus sebagai dosen yang memiliki tugas mengajar, membimbing, meneliti dan pengabdian pada masyarakat, ditambah lagi dengan proyek-proyek yang saya peroleh dari instansi pemerintah saya kerjakan dan saya lalui tanpa komplain dari pihak rektorat, bawahan, mitra kerja dan mahasiswa. Itu semua karena saya memiliki semangat kerja yang tinggi.

Dalam bekerja saya selalu menetapkan target kerja yang jelas untuk dicapai dan menetapkan rentang waktu untuk mencapainya. Sebagai dosen, sebelum mengajar saya membagi materi perkuliahan dalam beberapa kali pertemuan. Pembagian materi pelajaran ini saya sampaikan pada mahasiswa untuk disepakati.  Dalam pelaksanaannya, perkuliahan sesuai dengan jadwal. Materi yang disampaikan sesuai dengan pembagian waktu pertemuannya. Hampir tidak pernah saya melewati waktu yang telah disepakati. Itu karena saya memiliki target-target kerja.

Sebagai dosen saya memiliki disiplin yang tinggi. Saya selalu patuh dan taat pada aturan dan tata tertib dalam bekerja pada berbagai situasi dan kondisi. Saya hadir mengajar tepat waktu dan selesai mengajar tepat waktu. Praktikum dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Ketika Universitas banyak kegiatan dalam rangka dies natalis. Walaupun kegiatan itu menarik untuk ditonton saya tetap mengajar sesuai jadwal.

Saya juga memiliki ketangguhan yang tinggi. Saya tidak mudah menyerah dalam mencapai target kerja yang telah ditetapkan, sekalipun menghadapi banyak rintangan. Pada tahun 2008 saya memperoleh pekerjaan pengawasan dan penilaian bibit Gerakan Nasional Rehabilitas Hutan dan Lahan (Gerhan) dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP.DAS) Ketahun Bengkulu. Menilai 750,000 bibit penghijauan lingkungan. Masa kontrak selama 35 hari dan berakhir 14 Desember 2008. Penilaian bibit di titik bagi (tempat penampungan sementara) tergantung kesiapan pengada bibit. Pengada bibit siapnya tanggal 11 Desember. Saya hanya memiliki waktu 4 hari untuk menilai bibit yang begitu banyak dan tersebar dalam 10 kabupaten dan kota se Propinsi Bengkulu. Laporan Akhir harus sudah masuk tanggal 14 Desember tsb. Alhamdulillah, dengan kepemimpinan saya yang baik dan ketangguhan kerja yang tinggi, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya, meskipun saya dan tim penilai bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan tugas tersebut.

H. Integritas Diri (kejujuran, keteguhan pada prinsip, konsistensi, tanggung jawab dan keteladanan)

Jelaskan dan beri contoh integritas Saudara dalam kaitannya dengan kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contohnya!

Saya merasa memiliki kejujuran yang tinggi. Saya tidak pernah melakukan kecurangan, kebohongan, penipuan dan perbuatan tercela lainnya. Saya tidak pernah mengambil hak yang bukan hak saya, tidak pernah menjual nilai, mengambil upah membuat skripsi mahasiswa, tidak pernah menipu data penelitian, tidak pernah melakukan plagiat, tidak pernah memiliki skandal dengan mahasiswi, dosen dan karyawati, tidak pernah membuat malu institusi Unihaz.

Saya juga memiliki keteguhan pada prinsip. Saya memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain untuk berubah. Ketika saya menjadi Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Mukomuko Tahun 2007. Salah satu tugas saya adalah menegakkan hukum dibidang kehutanan dan perkebunan. Saya melihat kenyataan bahwa Perusahan Besar Perkebunan PT. Agromuko di salah satu estatenya (Sei Betung Estate), telah melebihi HGUnya yaitu 1250 ha. Lahan diluar HGU tersebut masuk dalam Hutan Produksi Terbatas (HPT), hutan yang tidak diperbolehkan untuk perkebunan kecuali izin Menteri Kehutanan. Saya permasalahkan PT. Agromuko. Saya lapor pada Bupati sebagai atasan saya. Awalnya beliau menyetujui rencana penegakan hukum saya. Saya ekspos di media massa (Koran dan TV lokal), saya sampaikan data-data pada LSM-LSM pencinta lingkungan, pihak Kejari dan Kepolisian. Saya dibujuk, dirayu dan ditekan oleh berbagai pihak. Setelah beberapa minggu saya dipanggil dan dimarahi Bupati. Saya dikatakan merusak tatanan yang sudah ada. Namun saya tetap berjuang, sampai saya dimutasi menjadi staf ahli bupati bidang pembangunan. Saya mendapat apresiasi dari bawahan saya dan rekan-rekan pencinta lingkungan dan menyayangkan sikap bupati yang memutasikan saya.

Saya merasa memiliki konsistensi yang tinggi. Saya merasa memiliki kemampuan untuk memelihara kesesuaian antara kata dan perbuatan dalam berbagai situasi dan kondisi. Selama saya menjadi dosen, atau pejabat di fakultas, saya belum pernah di klaim mahasiswa, dosen, karyawan  dan atasan karena tidak sesuai antara kata dan perbuatan. Bagi saya lain dimulut lain pula yang dikerjakan adalah perbuatan tercela dan tidak boleh dijadikan pemimpin karena tidak amanah. Saya selalu menegakkan aturan main yang sudah disepakati, konsisten menegakkan peraturan-peraturan dan norma-norma yang berlaku dimanapun saya berada.

Saya memiliki rasa tanggung jawab yang cukup tinggi. Saya taat menunaikan tugas dan kewajiban yang menjadi beban dan pekerjaan saya, serta mampu menjaga nama baik pribadi dan institusi. Selama saya menjadi dosen saya belum pernah mendapat surat peringatan karena meninggalkan tugas. Saya juga tidak pernah di klaim mahasiswa karena terlambat bimbingan skripsinya. Saya tidak pernah melanggar kode etik dosen dan saya tidak pernah  tidak sungguh-sungguh atas apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab saya. Saya merasa puas bila beban pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan sempurna dan tepat waktu.

Saya juga memiliki keteladanan artinya mampu menjadi contoh yang baik dalam bersikap dan berprilaku bagi orang-orang disekitar saya. Saya mampu menjadi sumber inspirasi, tempat bertanya dan meminta nasehat bagi banyak orang di dalam dan diluar kampus. Saya menjadi dekan dua priode. Saat pemilihan dekan baik priode pertama maupun periode kedua, saya tidak memiliki competitor alias calon tunggal. Saya ditawari oleh teman-teman untuk maju. Demikian juga pada periode kedua. Saya ditanya apakah masih bersedia lagi menjadi dekan? Saya kembali menjadi dekan tanpa pesaing. Ketika saya tidak boleh mencalon lagi pada priode ke tiga karena statuta, tercatat ada tiga calon dekan yang berkompetisi. Ini menunjukkan bahwa saya memiliki kewibawaan, dicintai dan disegani karena sikap dan prilaku saya dapat diteladani.


I. Keterbukaan terhadap kritik, saran, dan pendapat orang lain (penyikapan, penerimaan)

Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan contohnya!

Ketika kritik, saran dan pendapat disampaikan pada saya, saya mampu menyikapi dan menghadapi kritik, saran dan pendapat tersebut dengan baik dan sopan. Saya tidak pernah menjadi marah, meskipun cara mereka menyampaikan kritik tersebut kadang-kadang sangat menyakitkan.  Saya sangat berterima kasih sekali pada setiap orang yang bersedia member kritik, saran dan pendapatnya.  Kritik tersebut saya anggap sebagai masukan untuk intospeksi diri untuk mengarah ke hal yang lebih baik. Tidak ada manusia yang sempurna. Meskipun kita sudah berbuat lebih baik, lebih hati-hati, ada saja yang alpa, tidak terpikirkan dan diluar kemampuan kita. Demikian juga dengan saran dan pendapat yang disampaikan, saya tidak melihat siapa yang menyampaikan tetapi apa yang disampaikannya.

Cara mengkritik yang pedas saya anggap bahwa yang bersangkutan masih dalam tahap belajar dalam menyampaikan pendapat. Tidak ada dendam atau ingin membalas dengan mencari-cari kelemahan. Saya malah berterima kasih atas kritik, saran dan pendapat yang disampaikan kepada saya.  Dalam menanggapi kritik, biasanya saya akan mendengar kritikan yang dilontarkan pada saya. Saya akan melihatnya secara obyektif kebenaran kritik tersebut. Bila saya tidak yakin dengan kritik tersebut saya akan mencari pendapat orang lain agar saya lebih yakin dengan obyektivitas isi kritikan. Bila kritik, saran dan pendapat tersebut memberi kearah yang lebih baik atau bersifat membangun, maka saya akan menerima dan melaksanakannya.

J. Peran sosial (kemampuan kerja sama, kemampuan komunikasi)

Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan berbagai pihak (teman sejawat, staf administrasi, atasan, mahasiswa, dan masyarakat)? Berikan contohnya!

Kemampuan kerjasama saya cukup baik. Saya mampu bekerjasama dalam satu tim kerja, serta mampu menempatkan diri dengan baik sebagai anggota tim kerja. Teman-teman dosen, karyawan dan mahasiswa yang ikut dalam satu tim dimana saya sebagai pemimpin/anggota kegiatan merasa puas dengan dengan saya. Tidak ada complain. Pembagian tugasnya jelas, hak dan wewenangnya jelas, sistematik, adil, termasuk dalam pembagian keuntungannya. Mereka merasa dihargai, pendapat mereka didengar dan dipertimbangkan, tidak ada sekat atasan dan bawahan. Saya bisa bercengkrama dengan mereka. Ketika saya mendapat pekerjaan baru lagi, tidak ada yang menolak ketika saya ajak kembali.Â

Kemampuan komunikasi saya juga baik. Saya mampu menyampaikan pendapat saya tanpa orang lain merasa tersinggung. Saya mampu menyampaikan gagasan, pendapat, pesan, pemahaman dengan baik. Orang lain bisa memahami gagasan, pendapat, pesan dan pemahaman yang saya sampaikan dengan baik. Saya mampu menghargai dan meyakinkan orang lain. Banyak pekerjaan yang dipercayakan kepada saya yang diberikan oleh pemerintah daerah, seperti penyusunan dokumen RPJM, RKPD, Starda PDT, RAD PDT, Survey Investigasi Design (SID), LPI, Renstra dan lain-lain. Ini menunjukkan kemampuan komunikasi saya yang baik. Selain itu saya sering diminta sebagai pemberi kata sambutan baik dipesta-pesta perkawinan, musibah kematian, sunatan dan sebagainya. Saya juga dapat memahami dengan baik gagasan dan pesan yang disampaikan kepada saya.

K. Orisinalitas (kreativitas dan inovasi)

Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek pekerjaan Saudara! Berikan contohnya!

Saya merasa memiliki kreativitas yang baik. Saya cukup mampu melihat berbagai peluang untuk perubahan dan perbaikan dalam berbagai aspek, sehingga memiliki beragam ide baru yang unik dan khas. Penelitian S2 saya mengenai analisis energy pada berbagai paket teknologi padi sawah. Pada waktu itu (1992) belum ada yang meneliti tentang analisis energy seperti tersebut. Saya ingin menemukan cara bercocok tanam padi sawah yang hemat energy dan secara ekonomi menguntungkan. Usaha penghematan energy harus sudah dilaksanakan tidak terkecuali dibidang pertanian.

Saya memiliki kemampuan inovasi yang cukup baik. Saya cukup mampu menerjemahkan dan mengimplementasikan gagasan dan ide baru. Ketika mulai diperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, saya mulai mempelajarinya dan mengirim Pembantu Dekan I dan Ketua-ketua jurusan untuk mengikuti seminar dan lokakarya berkenaan dengan kurikulum tersebut. Setelah kami memiliki persamaan persepsi tentang kurikulum tersebut maka kami bawa ke rapat dosen untuk diminta tanggapannya. Kemudian kami bawa ke rapat senat fakultas untuk diminta tanggapan dan persetujuan. Akhirnya sejak tahun 2005 kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan di Fakultas Pertanian Unihaz.

Deskripsi diri ini saya buat dengan sesungguhnya dan jika diperlukan saya bersedia untuk menyampaikan bukti-bukti terkait.

                                                                           Â

Bengkulu,   Juni 2009

Dosen Yang Diusulkan

 Ir. Risvan Anwar, M.Si

(—————————––)

 NIP. 131 885 596

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Pertanian

  Eka Suzanna, SP, M.Si

(——————————–)

NIP. 132 093 249

Mengetahui,

Ketua Jurusan Agronomi

     Ir. Prihanani, M.Si

(——————————–)

     NIP.131 990 777

                                                                           Â

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



LAMPIRAN DISKRIPSI DIRI:

CURRICULUM VITAE

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CURRICULUM VITAE

IDENTITAS DIRI

Nama                                        : Ir. Risvan Anwar, M.Si

Nomor Peserta                         : 091137411540008

NIP/NIK                                    : 131 885 596        Â

Jenis Kelamin                           : □√ Laki-laki            □ Perempuan

Tempat dan Tanggal Lahir        : Padang, 7 Maret 1965

Status Perkawinan                    : □√ Kawin   □ Belum Kawin      □ Duda/Janda

Agama                                       : Islam        Â

Golongan / Pangkat                 : IV a / Pembina      Â

Jabatan Fungsional Akademik  : Lektor Kepala       Â

Perguruan Tinggi                      : Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

Alamat                                       : Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 01 Bengkulu

                   Telp./Faks.            : (0736) 344918; 20956

Alamat Rumah                         : Kandang Mas Mulya Blok A No. 154 RT. 24/RW.06 Kampung

                                                   Melayu Bengkulu   38216

                   Telp./Faks.            : HP. 0811732111

E-mail                                        : Tidak Ada

RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI

Tahun

Lulus

Jenjang

Perguruan Tinggi

Jurusan/

Bidang Studi

 

1989

S1

Fak. Pertanian Univ. Bengkulu

Budidaya Pertanian/ Budidaya Pertanian

 

1994

S2

IPB, Bogor

Agronomi/ Ekologi Tanaman

 

PELATIHAN PROFESIONAL

Tahun

Pelatihan

Penyelenggara

1985

Basic Training (Kepemimpinan)

HMI Cab. Bengkulu

1886

Intremediat Training (Kepemimpinan)

HMI Cab. Palembang

1988

Penataran Kewaspadaan Nasional

Kopkamtib dan Lemhanas

1994

Pendidikan Kader Tk. Nasional (Kepemimpinan Pemuda)

DPP Mapancas

1995

Penataran P4 Tk. Nasional

BP-7 Pusat

1995

Developing an Enterprise Culture in Higher Agric. Educ.

IPB, British Council, Royal Agric. College

1996

Latihan Kader Tingkat Utama (Kepemimpinan Pemuda)

DPP. AMPI

1998

Pemantapan Wawasan Kebangsaan

Menpora

2000

Achievement Motivation Training

Kopertis Wil. II

2009

Sosialisasi Sertifikasi Dosen PTS di lingkungan Kopertis Wil II

Kopertis Wil. II

2009

Metodologi Penelitian Dosen

Kopertis Wil. II

PENGALAMAN JABATAN

Jabatan

Institusi

Tahun … s.d. …

Ass. Ahli Madya

(Fungsional)

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

1-10-1991 sd

31-8-1994

Asisten Ahli

(Fungsional)

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

1-9-1994 sd

31-3-1997

Lektor Muda

(Fungsional)

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

1-4-1997 sd

31-12-2000

Lektor Â

(Fungsional)

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

1-1-2001 sd

31-1-2004

Lektor Kepala

(Fungsional)

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

01-02-2004 sd

Sekarang

Pembantu Dekan I Fak. Pertanian Unihaz

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

1997sd 2000

Dekan Fak. Pertanian Unihaz

Fakultas Pertanian Univ. Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu

2000 sd 2006       (dua periode)

Kabid. Â Konservasi

Rehab & Pengusahaan

hutan Hutbun Mukomuko

Kabupaten Mukomuko

04-12-2006

sd

7/2/2007

Kabid. Â Bina Program

Bappeda Mukomuko

Kabupaten Mukomuko

07-02-2007 sd

11/4/2007

Kepala Dinas

Hutbun Mukomuko

Kabupaten Mukomuko

12-04-07 sd

3/2/2008

Staf Ahli Bupati

Mukomuko

Bidang Pembangunan

Kabupaten Mukomuko

4/2/2008

sd

1/7/2008

PENGALAMAN MENGAJAR

Mata Kuliah

Jenjang

Institusi/Jurusan/Program

Tahun … s.d. …

Pengelolaan Gulma

S1

Fak. Pertanian Unihaz/ Agronomi/ Agronomi

1990-Sekarang

Klimatologi Dasar

S1

Fakultas Pertanian Unihaz/ Agronomi dan Budidaya Perairan

1990-Sekarang

Penulisan/Metode Ilmiah

S1

Fakultas Pertanian Unihaz/ Agronomi dan Budidaya Perairan

1990-Sekarang

IBTK Tahunan II

S1

Fak. Pertanian Unihaz/ Agronomi/ Agronomi

2008- Sekarang

Pengantar Ilmu Pertanian

S1

Fak. Pertanian Unihaz/ Agronomi/ Agronomi

2008- Sekarang

PENGALAMAN MEMBIMBING MAHASISWA

Tahun

Pembimbingan/Pembinaan

1994-2000

Pembimbing Akademik

1994-2009

Pembimbing Praktek Kerja Lapang

1994-2009

Pembimbing Skripsi

1994-2000

Pembimbing Lapangan Kuliah Kerj Nyata

1994-2009

Pembimbing Seminar Akademik

PENGALAMAN PENELITIAN

Tahun

Judul Penelitian

Jabatan

Sumber Dana

1995

Studi allelopi tanaman nilam (Pogostemon cablin, Benth) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung dan kedelai

Ketua

LPPM Unihaz

1996

Pengaruh allelopati ekstrak danun nilam (Pogostemon cablin, Benth) terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah dan kacang hijau

Ketua

LPPM Unihaz

1997

Pengaruh daun nilam (Pogostemon cablin, Benth) terhadap pertumbuhan dan hasil cabe dan terong

Ketua

Mandiri

1998

Pengaruh ekstrak daun nilam (Pogostemon cablin, Benth) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawit dan tomat

Ketua

Mandiri

1999

Uji berbagai pola tanam nilam-kedelai untuk menghindari pengaruh allelopati nilam

Ketua

Peneliti Muda Dikti

2000

Uji interaksi tanaman kangkung (I. replans C. Doir) terhadap gulma Cleome rutidospermae DC. dan Cyanotis axilaris L.

Ketua

LPPM Unihaz

2001

Pengaruh ekstrak akar tuba terhadap mortalitas hama ulat grayak (spodoptera litura) pada tanaman kedelai

Ketua

Mandiri

2001

Pengaruh Residu Herbisida Paraquat + Diuron terhadap Pertumbuhan dan Hasil Baby Corn

Ketua

LPPM Unihaz

2002

Pengaruh pengolahan tanah dan konsentrasi atonik terhadap pertumbuhan dan stek nilam (Pogostemon cablin Benth)

Ketua

Mandiri

2003

Pengaruh cara pengolahan tanah dan pengendalian gulma terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max L. Merryl)

Ketua

LPPM Unihaz

2004

Pengaruh tingkat kekeruhan air pembawa terhadap efektifitas herbisida glyphosate pada alang-alang (I. cylindrica  L.)

Ketua

Mandiri

2005

Uji berbagai herbisida terhadap gulma dan pengaruhnya pada pertumbuhan dan hasil padi sawah system tebar langsung

Ketua

LPPM Unihaz

2006

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma dilahan perkebunan sawit

Ketua

LPPM Unihaz

2007

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma tanaman karet

Ketua

LPPM Unihaz

2008

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma pada pertanaman kedelai di lahan basah

Ketua

LPPM Unihaz

 

KARYA TULIS ILMIAH

A. Buku/Bab/Jurnal

Tahun

Judul

Penerbit/Jurnal

2002

Pengaruh Residu Herbisida Paraquat + Diuron terhadap Pertumbuhan dan Hasil Baby Corn

Jurnal Akta Agrosia ISSN: 1410-3354Â Vol. 5 N0.1 Jan-Juni 2002

2004

Pengaruh konsentrasi urine sapi terhadap pertumbuhan berbagai jenis stek nilam (Pogostemon cablin Benth)

Jurnal Agrogua vol.2 No. 01 Juni 2004

2005

Pengaruh macam mulsa dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi kubis (Brasica oleracea, L)

Jurnal Agroqua ISSN No.0216-8585 Vol.3 No.2 Desember 2005.

2005

Uji berbagai herbisida terhadap gulma dan pengaruhnya pada pertumbuhan dan hasil padi sawah sistem tebar langsung

Jurnal Agroqua ISSN No.0216-8585 Vol.3 No.2 Desember 2005.

2006

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma dilahan perkebunan sawit

Jurnal Agroqua ISSN No.0216-8585 Vol.4 No.1Â Juni 2006.

2008

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma tanaman karet

Jurnal Raflesia ISSN 1411-2434 Vol. 11 No. 1 Januari 2008.

2008

Uji berbagai herbisida dalam pengendalian gulma pada pertanaman kedelai di lahan basah

Jurnal Raflesia ISSN 1411-2434 Vol. 12 No. 2Â Juli 2008

17 – 22 Mei 2006 (berseri)

Percepatan pembangunan kabupaten Mukomuko untuk lepas dari predikat kabupaten tertinggal

Harian Berita Marlborough, 17 – 22 Mei 2006 (berseri)

29 Agustus 2006

Bertanam jarak untuk penyelamatan Negara dari krisis

Harian Rakyat Bengkulu, 29 Agustus 2006

2006

Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP.DAS) Ketahun, Bengkulu. (Pembengkalan LSM Pendamping Gerhan)

24 Februari, 2008

Meningkatkan Kesejahteraan Petani Padi Sawah

Mukomuko Pos, 24 Februari, 2008

4 Maret 2008

Pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Mukomuko Pos, 4 Maret 2008

B. Makalah/Poster

Tahun

Judul

Penyelenggara

 

C. Penyunting/Editor/Reviewer/Resensi

Tahun

Judul

Penerbit/Jurnal

 

PESERTA KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM

Tahun

Judul Kegiatan

Penyelenggara

2006

Seminar dan Lokakarya Nasional Sekolah Unggul

Unihaz kerjasama dengan Yayasan Damandiri

2009

Seminar Nasional Penanggulangan Terorisme (Cetak biru Komunitas Sosial Budaya ASEAN)

Dirjen Kerjasama ASEAN Deplu

KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Tahun

Kegiatan

2005

Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kab. Mukomuko

2006

Penyusunan RKPD Kab. Mukomuko.

2006

Penyusunan Strada PDT Kabupaten Mukomuko.

2006

Penyusunan Rencana Aksi Daerah PDTÂ Kab. Mukomuko.

2006

Survey Investigasi Design. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Mukomuko.

2006

Penilai Independen Bibit Gerhan. BP. DAS Ketahun Bengkulu.

2006

Penilai Kinerja Gerhan. BP. DAS Ketahun Bengkulu.

2007

Penyuluhan dan Bimbingan Bercocok tanam cabai system mulsa plastic. Desa Pekik Nyaring.

2007

Bercocok tanam palawija dalam pot. Desa Pekik Nyaring

2008

Bercocok tanam palawija dalam pot. Kandang Mas Kampung Melayu.

2008

Pembuatan pupuk kompos dari sampah rumah tangga. Kandang Mas Kampung Melayu

2008

Penilai Independen Bibit Gerhan. BP. DAS. Ketahun Bengkulu

2009

Pembuatan pupuk kompos organic. Desa Pekik Nyaring

PENGHARGAAN/PIAGAM

Tahun

Bentuk Penghargaan

Pemberi

 

 

 

ORGANISASI PROFESI/ILMIAH

Tahun

Organisasi

Jabatan

1994

Himpunan Ilmu Gulma Indonesia (HIGI)

Anggota

 

Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar dan apabila terdapat kesalahan, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.

Bengkulu,   Juni 2009

Mengetahui                                                                 Dosen Ybs

Ketua Jurusan Agronomi                                           Â

   Ir. Prihanani, M.Si                                                   Ir. Risvan Anwar, M.Si

(………………………………..)                                      (…………………………………..)

 NIP. 131 990 777                                          NIP. 131 885 596

 

 

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN KESUKSESAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Oktober 27, 2009

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DALAM MEWUJUDKAN KESUKSESAN GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Oleh: Risvan Anwar

I. Pendahuluan

Sampai pada akhir tahun 2005 keberhasilan dalam rehabilitasi lahan dan hutan melalui proyek reboisasi baik hutan produksi, hutan konservasi, hutan lindung maupun hutan rakyat oleh pemerintah belum menggembirakan. Walaupun pada lokasi-lokasi tertentu nampak beberapa keberhasilan. Keberhasilan tersebut sangat dipengaruhi oleh motivator yang ada.
Banyak faktor non teknis sebagai penyebab kekurangberhasilan program tersebut disamping faktor teknis yang yang tidak terapliksikan sepenuhnya. Faktor-faktor non teknis tersebut antara lain: (a) perbedaan kepentingan dari proyek dengan kebutuhan masyarakat (petani) setempat; (b) sarana-sarana penunjang yang terlambat dan kurang; (c) persepsi masyarakat yang menganggap proyek-proyek tersebut adalah milik pemerintah. Jadi, pemerintahlah yang bertanggungjawab; (d) kurangnya penjelasan dan penerangan kepada penduduk; (e) keterlibatan penduduk setempat kurang jelas dan keterbatasan pada waktu tertentu, hal ini antara lain karena keikutsertaan penduduk yang bermotifkan kepada upah saja. Beberapa faktor teknis yang menyebabkan kurang berhasilnya program ini antara lain: (a) keadaan/tingkat pertumbuhan bibit yang ditanam dilapangan masih belum sesuai dengan persyaratan, terlalu muda sehingga kemampuan kompetisi dengan tanaman lain sangat rendah; (b) jarang/tidak dilakukan pemupukan pada pertanaman, sedangkan lahan yang direhabilitasi adalah lahan-lahan yang kritis; (c) kurang pemeliharaan dan evaluasi pertanaman.
Masyarakat setempat seharusnya dapat berperan dalam pemeliharaan dan evaluasi ini, tetapi karena merasa tidak bertanggungjawab maka mereka apatis dan berdiam diri. Dari beberapa pengalaman, keberhasilan mengajak masyarakat secara penuh dan musyawarah terhadap arah dan sasaran proyek dengan masyarakat setempat merupakan kunci keberhasilan proyek ini. Disinilah peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pendamping sangat menentukan.
Masyarakat disekitar hutan umumnya adalah masyarakat petani dan pemanfaat hasil hutan, baik berupa kayu maupun non kayu. Kerusakan hutan banyak dilakukan oleh masyarakat disekitar hutan ini. Apalagi pada musim paceklik dimana sumber pangan mulai langka dan kemampuan beli masyarakat rendah, satu-satunya jalan mudah adalah merambah hutan baik untuk kayu bakar, kayu pancang maupun bahan bangunan. Untuk mencegah kerusakan hutan yang semakin meluas maka sumber-sumber pendapatan masyarakat sekitar hutan perlu dialihkan keusaha lain yang lebih menguntungkan. Untuk dapat mengalihkan sumber pendapatan masyarakat disekitar hutan ini ke usaha lain yang lebih menguntungkan maka mereka perlu diberdayakan.
Pemberdayaan masyarakat mengandung pengertian meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM), peningkatan dalam permodalan maupun bidang usahanya (pengembangan kegiatan ekonomi) dan penguatan kelembagaan sosial ekonomi. Sehingga meningkat kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya terwujud kemandirian bahkan tumbuh keswadayaan masyarakat dalam partisipasi pembangunan.

II. Model Pendekatan

1. Model tindak manusia (Human action model)
Pembangunan yang sektoral dan menggunakan mekanisme proyek untuk mencapai pembangunan masyarakat desa akan menemui banyak kendala yang membatasi dalam mengadakan perlibatan masyarakat. Pembangunan menjadi suatu kegiatan ekstern yang dibawakan oleh pemerintah dan aparaturnya dan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat setempat yang sifatnya spesifik. Pendapat yang mengatakan bahwa kegagalan suatu proyek pembangunan disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat menerima proyek, sebagian mungkin benar. Namun mungkin saja pihak pemerintah belum siap melibatkan masyarakat dalam pembangunan tersebut.
Berdasarkan masalah tersebut ditawarkan model pendekatan “Tindak Manusia” (Human Action Model). Pada model ini terdapat beberapa prinsip: (a) Tindak kreatif merupakan akhir dari suatu roses yang dilandasi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang diterjemahkan dalam tindak (action) melalui pengembangan institusi dan mekanisme yang tepat; (b) Pembangunan sebagai proses perubahan merupakan merupakan tindak kreatif, yang didorong oleh suatu keterkaitan atau inner commitment (perorangan dan masyarakat) untuk mencapai sesuatu yang lebih baik; (c) Penumbuhan inner commetment, kelembagaan dan mekanisme pembangunan serta kemampuan-kemampuan pengelolaan sebagai proses perubahan yang kreatif, merupakan suatu proses pendidikan masyarakat.
Prinsip-prinsip tersebut pada dasarnya mengargumentasikan agar pembangunan pedesaan merupakan suatu proses di dalam masyarakat desa itu sendiri, agar dapat berkembang secara mandiri. Untuk itu perlu diciptakan iklim yang merangsang perkembangan oleh masyarakat sendiri. Sistem proyek, terutama sektoral merupakan penghambat karena sukar melibatkan masyarakat untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan untuk membangun, mulai dari prakarsa sampai dengan pelaksanaannya. Masyarakat desa menjadi obyek pembangunan. Dalam model tindak manusia ini maka masyarakat desa dilihat sebagai subyek pembangunan.

2. Model kebijakan yang didasarkan komunitas desa (community based development)
Model pendekatan ini merupakan pendekatan yang khas untuk suatu tempat dengan kebudayan tertentu (locality & culture spesific). Ia merupakan proses perubahan yang dimulai atas dasar persepsi masyarakat atas kebutuhan yang dirasakan pada saat itu untuk merubah dirinya untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik. Permasalahannya adalah bagaimana untuk memulai proses perubahan tersebut pada tingkat dimana sebanyak mungkin warga desa dapat langsung berperan dalam mengambil keputusan. Dari berbagai pengalaman titik masuk yang terbaik untuk memulai proses ini adalah pada tingkat RT. Keberhasilan pada tingkat RT ini akan memulai pembangunan dengan cepat dan akan menjalar pada tingkat kampung.
Untuk mendorong tumbuhnya proses perubahan tersebut perlu suatu lembaga yang bebas (independent) yang berorientasi pengabdian/pelayanan seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kini sudah banyak tumbuh atau Lembaga Perguruan Tinggi yang salah satu tridharmanya adalah pengabdian masyarakat.

III. Strategi Pemberdayaan

Meskipun proyek GN RHL/Gerhan ini merupakan reboisasi hutan sebaiknya program-program yang dilaksanakan merupakan program dengan pendekatan kesejahteran yang merealisasikan multiple use of land (penggunaan lahan yang multi guna). Didalam program ini selalu diusahakan bagaimana meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar hutan. Oleh karena itu kegiatan Gerhan ini perlu diikuti dengan program-program percontohan lainnya seperti penanaman tanaman pangan (jagung, umbi-umbian), hotrikultura (bunga-bungaan, buah-buahan, sayur-sayuran), perkebunan, penanaman hijauan makanan ternak, ternak, penanaman berbagai jenis kayu bakar, beternakan unggas, ternak ikan, ternak lebah, industri rmah tangga dan lain sebagainya.
Program-program percontohan tersebut diharapkan berkembang menjadi expansion diffusion. Terjadinya ekspansion diffusion meskipun lambat tetapi pada umumnya keberhasilannya lebih terjamin. Hal ini disebabkan oleh faktor keberhasilan dan kebutuhan yeng merupakan pendorong utama. Program penyelamatan tanah dan air, misalnya pembuatan teras, penanaman jalur hijau dan lain-lain merupakan contoh expansion diffusion.
Perkembangan setiap program pembangunan yang dicontohkan, biasanya akan ditiru oleh penduduk. Apalagi bila penduduk telah mengetahui dengan pasti keberhasilannya.
Selain program percontohan yang nantinya akan ditiru oleh masyarakat, maka perlu membangun partisipasi masyarakat melalui pembentukan dan penguatan kelompok usaha/sasaran. Pelatihan-pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat baik itu managemen usaha maupun kemampuan teknis bagi kelompok sasaran perlu digalakkan. Materi pelatihan harus sesuai dengan kebutuhan.
Kendala utama dalam pengembangan usaha masyarakat desa adalah lemahnya permodalan. Oleh karena itu perlu diupayakan penguatan modal, baik modal usaha, modal kerja maupun modal pengembangan usaha. Kerjasama dengan pihak perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya perlu dijalin.. Beberapa lembaga sosial ekonomi yang perlu dikembangkan adalah unit usaha keuangan seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Unit Simpan Pinjam, Bank Perkreditan Rakyat dan Koperasi. Unit-unit usaha ini bermitra dengan beberapa lembaga pembiayaan dan perbankan, baik milik pemerintah maupun swasta untuk mendukung permodalan petani.
Selain itu perlu dirintis dan diperkuat akses pemasaran produk. Peran lintas sektoral sangat dibutuhkan dalam masalah ini, terutama dalam menampung hasil usaha, jaringan pemasaran dan peningkatan infrastruktur.
Untuk membantu agar kelompok masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk berperan lebih aktif, maka ditingkat pedesaan diperlukan bantuan LSM. LSM berfungsi sebagai motivator, fasilitator dan keperantaraan yang dapat melibatkan kelompok masyarakat pada tingkat RT atau kampung untuk memulai proses perubahan. Untuk itu LSM membutuhkan pengakuan (legitimasi). Efektivitas perannya akan sangat membantu jika ia menjalankan tugasnya secara profesional, dimana ia dapat memberi interpretasi yang konstruktif mengenai kepentingan masyarakat dan juga mengenai program-program pemerintah pada masyarakat. Dengan demikian ia merupakan bagian dari pada mekanisme untuk memecahkan konflik.

UJI BERBAGAI HERBISIDA DALAM PENGENDALIAN GULMA TANAMAN KARET Test Of Various Herbicide To Control The Weeds Robber

Agustus 20, 2009

UJI BERBAGAI HERBISIDA DALAM PENGENDALIAN GULMA
TANAMAN KARET
Test Of Various Herbicide To Control The Weeds Robber

Risvan Anwar
Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian
Universitas Prof, Dr. Hazairin, SH (Unihaz) Bengkulu

ABSTRACT
This Research aim to know combination effectiveness some herbicide in controling weeds in plantation of robber. This attempt is executed by Air Sebakul, Bengkulu. The Metods of this research is Completely Randomized Design (CRD) by 7 ( seven) kinds of treatment of herbicide. Each treatment repeated with thrice restating.
Treatment of the herbicide cover: A = Kleen Up with dose 5 l / ha B = Gramoxon with dose 3 l / ha C = Lindomin with dose 3 l / ha D = Kleen Up and of Gramoxon with dose 2,5 l / ha and 1,5 l / ha E = Kleen Up and of Lindomin with dose 2,5 l / ha and 1,5 l / ha F = Gramoxon and of Lindomin with dose 1,5 l / ha and 1,5 l / ha G = Kleen Up, Gramoxon and of Lindomin with dose 1,7 l / ha, 1,0 l / ha and 1,0 l / ha
Result of research conclude that treatment various herbicide combination have an effect on very real in controling weeds in farm plantation of robber. Treatment with herbicide of Kleen Up and of Gramoxon good of single treatment and also its combination is including with herbicide of Lindomin effective in controling gulma in farm plantation of sawit which not yet yielded.
————
Key word: herbicides, weeds, control, robber
PENDAHULUAN
Pengelolaan gulma diperkebunan merupakan salah satu faktor agronomi yang cukup penting. Hal ini disebabkan karena sebagian besar (antara 16-26%) dari biaya produksi keseluruhan terserap oleh sektor pengelolaan gulma (Chee et al., 1990). Biaya yang cukup tinggi tersebut disebabkan oleh jumlah rotasi aplikasi herbisida yang tinggi dalam pengendalian gulma sepanjang baris tanaman. Penggunaan glyphosate secara terus menerus dalam periode yang lama untuk mengendalikan gulma menyebabkan terjadinya dominasi gulma berdaun lebar.
Gulma menjadi masalah diperkebunan karet, baik dipembibitan maupun di pertanaman. Gulma yang hadir pada tanaman remaja maupun telah menghasilkan dapat menyebabkan penurunan luas daun, jumlah daun perpohon, bobot kering, produksi bunga betina dan hasil bunga segar (Ojuederie et al, 1983).
Untuk meningkatkan produksi karet maka pemeliharaan perkebunan karet harus dilakukan dengan baik. Salah satu aspek pemeliharaan yang harus menjadi perhatian adalah pengendalian gulma.
Pengendalian gulma pada pertanaman karet yang belum menghasilkan adalah praktek baku yang dikerjakan di perkebunan karet di Indonesia. Tujuan pengendalian gulma sepanjang jalur tanaman karet ini adalah untuk menghindari persaingan antara tanaman karet dengan gulma, sanitasi jalur penempatan pupuk dan memudahkan dalam pengawasan.
Pada areal yang luas, pengendalian gulma secara manual sulit dilaksanakan karena susah mencari tenaga kerja, sedangkan waktu yang tersedia terbatas. Oleh karena itu perlu dicari metode pengendalian kimiawi dengan menggunakan herbisida. Metode ini memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit, mudah, cepat dan kebun lebih lama bersih. Selain itu pengendalian secara kimiawi dapat menghindarkan pembentukan cekungan (Tjitrosoedirdjo et al., 1984).
Setiap herbisida memiliki daya berantas yang khusus untuk golongan tertentu. Gramoxone dengan bahan aktif Paraquat diklorida merupakan herbisida yang lebih bersifat kontak, non selektif dengan daya kerja yang cukup cepat (Syngenta, 2002). Lindomin 865 As dengan bahan aktif 2,4 D Dimetil amine merupakan herbisida sitemik dan selektif untuk mengendalikan gulma bedaun lebar, sempit dan teki pada tanaman karet yang belum menghasilkan (Nufarm Indonesia, 2002). Kleen Up dengan bahan aktif Isopropanillamin glyphosate merupakan herbisida sistemik dan selektif untuk mengendalikan alang-alang dan gulma berdaun sempit seperti Paspalum conjugatum (Nufarm Indonesia, 2002). Seth, A. K. 1988, menyatakan bahwa tidak ada herbisida tunggal yang memberikan pengendalian gulma dalam jangka panjang terhadap semua jenis gulma. Untuk melebarkan spektrum pemberantasan yang dicapai dengan herbisida tunggal, tindakan yang mempersatukan campuran-campuran herbisida dengan aktivitas komplementer menjadi makin popular. Pelaksanaan seperti itu juga menghindari kebutuhan akan dua putaran penyemprotan dan pengawasan yang diperlukan bagi kegiatan beruntun. Dengan kombinasi herbisida-herbisida tersebut diharapkan dapat membunuh gulma dengan cepat dan daya penekanannya lama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi berbagai herbisida dalam mengendalikan gulma di gawangan perkebunan karet yang belum menghasilkan.

METODOLOGI PENELITIAN
Percobaan dilaksanakan di Desa Air Sebakul Kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu Utara pada bulan Februari sampai dengan April 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 (tujuh) macam perlakuan herbisida. Masing-masing perlakuan di ulang dengan tiga kali ulangan. Perlakuan herbisida tersebut meliputi:
A = Kleen Up : 5 l/ha
B = Gramoxon : 3 l/ha
C = Lindomin : 3 l/ha
D = Kleen Up dan Gramoxon: 2,5 l/ha : 1,5 l/ha
E = Kleen Up dan Lindomin: 2,5 l/ha : 1,5 l/ha
F = Gramoxon dan Lindomin: 1,5 l/ha : 1,5 l/ha
G = Kleen Up, Gramoxon dan Lindomin: 1,7 l/ha : 1 l/ha : 1,0 l/ha

Analisis vegetasi dilaksanakan sebelum perlakuan penyemprotan herbisida untuk mengetahui tingkat dominansi masing-masing spesies gulma dan dua bulan setelah penyemprotan untuk mengetahui tingkat dominansi dan perubahan gulma yang tumbuh. Pengamatan pada setiap peubah yang diamati dilakukan pada 30 hari setelah aplikasi. Khusus untuk menghitung berat kering tiller dan tingkat dominasi gulma dilakukan pada 60 hari setelah penyemprotan.
Peubah yang Diamati yaitu: (1) Gulma dominan sebelum penyemprotan, (2) Gulma dominan setelah penyemprotan (3) Persentase kematian gulma, (4) Tingkat efikasi herbisida, (5) Berat kering anakan gulma (Tiller).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Gulma dominan sebelum penyemprotan herbisida disajikan pada Tabel 1, sedangkan gulma dominan setelah penyemprotan herbisida disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Hasil Analisis Sum Dominanced Ratio (SDR) Gulma Sebelum Aplikasi Herbisida

No Jenis Gulma SDR
1 Cyperus spp 0.47

2 Ageratum conyzoides, L 0.42

3 Imperata cylindrica,L 0.08

4 Paspalum conjugatum, L 0.03

Tabel 1 menunjukkan bahwa gulma dominan di lahan gawangan perkebunan karet yang belum menghasilkan adalah jenis teki-tekian (Cyperace, spp), kemudian diikuti oleh Ageratum conyzoides, L., Imperata cylindrica, L. dan Paspalum conjugatum, L.

Tabel 2. Hasil Analisis Sum Dominanced Ratio (SDR) Gulma Setelah Aplikasi Herbisida

No Jenis Gulma SDR
1 Cyperus spp 0.41

2 Ageratum conyzoides, L 0.05

3 Imperata cylindrica,L 0.08

4 Otochloa nodosa, L 0.46

Tabel 2 memperlihatkan bahwa gulma yang dominan setelah aplikasi herbisida berubah dari Cyperus, spp menjadi gulma Otochloa nodosa, L, gulma ini belum ditemukan sebelum penyemprotan. Kemudian gulma dominan berikutnya adalah I. Cylindrica dan A. Conyzoides. Kedua gulma ini dominansinya kecil yaitu 8 % dan 5%.
Tabel 3. Pengaruh Berbagai Kombinasi Herbisida Terhadap Gulma Di Gawangan Perkebunan Karet

Perlakuan Persentase kematian gulma (%) Tingkat efikasi herbisida Berat kering anakan gulma (g)
A = Kleen Up
B = Gramoxon
C = Lindomin
D = Kleen Up dan
Gramoxon
E = Kleen Up dan
Lindomin
F = Gramoxon dan
Lindomin
G = Kleen Up,
Gramoxon dan
Lindomin 91,63 ab
95,74 a
25,30 c
94,87 ab

90,87 b

95,32 ab

95,79 a 0,11 b
0,06 d
0,45 a
0,08 cd

0,09c

0,09 c

0,10 bc 3,67 b
5,93 b
14,50 a
5, 80 b

5,96 b

6,77 b

5,06 b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda tidak nyata pada taraf uji DMRT 0,05

Tabel 1 memperlihatkan bahwa sebelum penyemprotan, lahan perkebunan karet belum menghasilkan didominasi oleh gulma Cyperus, spp dan Ageratum conyzoides, L. Cyperus, spp adalah teki-tekian. Teki-tekian yang mendominansi adalah C. rotundus, L. C. brevifolius, L., C. compressus, L. dan C. diformis, L. Teki-teki ini sangat menyukai lahan-lahan yang terbuka dan sedikit ternaungi, lahan yang ditinggalkan, hutan-hutan sekunder, sisi-sisi jalan, kebun-kebun, dan lahan padi darat. Teki-teki ini dapat hidup sampai 2000 m diatas permukaan laut (Suryani, Kostermans dan Tjitrosoepomo 1987).
Ageratum conyzoides, L atau bahasa daerahnya Babandotan atau Wedusan adalah gulma berdaun lebar dari familia Asteraceae (Compositae). Gulma ini menyukai hidup di lahan pertanian yang lembab, lahan-lahan yang banyak mengandung bahan organik seperti tempat pembuangan sampah, sisi-sisi jalan, lahan perkebunan. Gulma ini dapat hidup sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut (Suryani, Kostermans dan Tjitrosoepomo 1987).
Tabel 2 memperlihatkan bahwa setelah 60 hari penyemprotan, lahan perkebunan karet belum menghasilkan didominasi oleh gulma Otochloa nodosa, L. dan Cyperus spp. Otochloa nodosa, L adalah gulma famili Graminae (rumput-rumputan). Gulma ini sebelum penyemprotan belum ada, namun setelah penyemprotan gulma ini muncul dan mendominasi lahan perkebunan karet belum menghasilkan. Sementara itu Gulma A. conizoides, L yang sebelum penyemprotan sangat mendominasi, setelah penyemprotan tidak timbul lagi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena herbisida yang berbahan aktif glyphosate, paraquat dan 2,4-D secara sinergis efektif dalam mengendalikan gulma berdaun lebar seperti A. conyzoides. Sementara itu gulma Cyperus spp, secara populasi cukup tertekan, namun masih dominan dibandingkan dengan gulma-gulma lain.
Hasil pengamatan dilapangan tingkat keracunan gulma umumnya katagori empat (4) yaitu keracunan sangat berat, 76% – 100% gulma mati, hanya perlakuan dengan herbisida Lindomin yang tingkat keracunannya rendah yaitu katagori 1 (keracunan ringan, atau 6% – 20% gulma mati). Hal ini diduga herbisida Lindomin yang berbahan aktif 2,4 D lebih menekan gulma berdaun lebar, sementara gulma berdaun sempit tidak begitu efektif sehingga masih banyak yang hidup. Setelah dicampur dengan herbisida Kleen Up dan atau Gramoxon, tingkat keracunan meningkat menjadi katagori empat.
Hasil sidik keragaman memperlihatkan bahwa perlakuan berbagai kombinasi herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap persentase kematian gulma di gawangan lahan perkebunan karet belum menghasilkan. Hasil uji Duncant multiple range test (DMRT) memperlihatkan bahwa perlakuan herbisida Lindomin, bahan aktif 2,4 Dimetil amina, memberikan tingkat keracunan terendah. Hal ini diduga herbisida dengan bahan aktif 2,4 D yang terkandung dalam Lindomin kurang efektif dalam mengendalikan gulma berdaun sempit yang dominan di lahan perkebunan karet belum menghasilkan. Pola yang sama juga terlihat pada peubah tingkat efikasi herbisida dan berat kering anakan gulma (tiller), yaitu tingkat efikasi herbisida terendah dan berat kering anakan terbanyak adalah pada perlakuan herbisida Lindomin. Beberapa pendapat menyebutkan Lindomin hanya efektif dalam mengendalikan gulma di lahan basah, seperti sawah, rawa, pinggir sungai dan daerah-daerah tergenang lainnya. Penyemprotan Lindomin di lahan kering kurang begitu efektif (Ikhsan Hasibuan, 2006, wawancara pribadi).
Tabel diatas juga menunjukkan bahwa perlakuan dengan herbisida Kleen Up dan Gramoxon, baik perlakuan tunggal maupun dikombinasikan dengan herbisida lain terlamuk dengan herbisida Lindomin efektif dalam mengendalikan gulma di perkebunan karet yang belum menghasilkan. Hal ini diduga karena herbisida Kleen Up dan Gramoxon efektif mengendalikan gulma teki, rumput dan berdaun lebar. Herbisida bermerek dagang Kleen Up berbahan aktif isopropanilamina glyphosate 480 gr/l atau setara dengan glyphosate 356 gr/l. Herbisida ini adalah herbisida sistemik, mampu mengendalikan gulma alang-alang (Imperata cylindrica, L), dan Paspalum conjugatum, L., baik dipertanaman karet, kelapa sawit, tanaman teh maupun pada tanah tanpa tanaman. Glyphosate adalah herbisida berspektrum luas. Glyphosate non selektif untuk tanaman pertanian sehingga dianjurkan untuk pengolahan tanah dan untuk tanaman-tanaman perkebunan dengan sistem aplikasi sela (Bangun dan Pane, 1984).
Herbisida bermerek dagang Gramoxon berbahan aktif paraquat dichloride 276 gr/l atau setara dengan paraquat 200 gr/l. Herbisida ini diproduksi oleh PT. Syngenta. Herbisida ini mampu mengendalikan gulma berdaun lebar seperti Ageratun conyzoides, L., gulma berdaun sempit dan teki. Herbisida ini bersifat kontak dan nonselektif (PT. Syngenta, 2002). Bersifat kontak karena herbisida ini akan mematikan pada bagian gulma yang terkena herbisida. Bersifat non selektif karena herbisida ini mempengaruhi semua jenis tumbuhan yang terkena herbisida ini. Dengan demikian herbisida ini dapat mengendalikan semua jenis gulma apabila penggunaannya benar. Herbisida ini sering digunakan untuk tujuan pengendalian gulma saat pra tanam dan juga untuk tujuan pemeliharaan tanaman perkebunan dengan teknis-teknis tertentu. Sebagai sarana pemeliharaan tanaman sering digunakan untuk mengendalikan gulma pada saat tanaman tumbuh dan berkembang. Herbisida ini digunakan untuk mengendalikan gulma yang dapat memberikan pengaruh kompetisi dan menghalangi serta mempersulit operasi pemeliharaan tanaman diantara barisan (Utomo dan Roesmanto, 2005).
Herbisida dengan merek dagang Lindomin 865 AS merupakan herbisida sistemik berbahan aktif 2,4 dimetilamine 465 gr/l atau setara dengan 2,4 D 720 g/l. Herbisida ini mampu mengendalikan gulma berdaun lebar, sempit dan teki. Herbisida ini dapat mengendalikan gulma dipertanaman padi sawah, karet, tebu dan kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Herbisida ini di produksi oleh PT Nufarm Indonesia. Dosis anjuran adalah 2-3 l/ha (PT. Nufarm Indonesia, 2002).
Herbisida berbahan aktif 2,4 D termasuk dalam herbisida golongan Fenoksi. Nama kimia dari herbisida ini adalah 2,4-(Dichloriphenoxy) acetic acid. 2,4 D dalam dosis tinggi akan mengganggu pembentukan lemak. 2,4 D cenderung lebih mematikan jika diaplikasikan pada gulma berdaun lebar (Ashton dan Craft, 1981).

KESIMPULAN
Penyemprotan herbisida menyebabkan terjadi perubahan dominasi gulma di lahan perkebunan karet dari dominasi Cyperus spp dan Ageratum conyzoides, L. menjadi Otochloa nodosa, L dan Cyperus spp.
Perlakuan berbagai kombinasi herbisida berpengaruh sangat nyata dalam mengendalikan gulma di lahan perkebunan karet. Perlakuan dengan herbisida Kleen Up dan Gramoxon baik perlakuan tunggal maupun kombinasinya termasuk dengan herbisida Lindomin efektif dalam mengendalikan gulma di lahan perkebunan karet yang belum menghasilkan.
DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. and A.S. Crafts. 1981. Mode of Action of Herbicides. John Willey and Son. New York.
Bangun, P dan H. Pane. 1984. Pengantar Penggunaan Herbisida pada Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman pangan. Bogor.
Chee, Y. K., S. A. Lee, A.A. Ismail and L. Teo. 1990. Crop loss by weed in Malaysia. Proc. Of the Third Tropical Weed Science Conferencee, Kuala Lumpur.
Ojuederie, B. M., G. ). Langdale, and Q.W. S. N. Utulu. 1983. Effek of various interrow ring on the early growth flowering and bunch yield of the oil palm. J. Niger. Inst. Oil Palm Res.
PT. Nufarm Indonesia. 2002. Petunjuk Penggunaan Kleen Up. Leaflet.
——————-.2002. Petunjuk Penggunaan Lindomin. Leaflet.
PT. Syngenta. 2002. Petunjuk Penggunaan Gramoxone. Leaflet.
Seth, A. K. 1988. Integreted Control Weed in Tropical Plantation. Tokyo University Press.
Soeryani, M., A. J. G. H. Kostermans and G. Tjitrosoepomo. 1987. Weed of Rice in Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Tjitrosoedirdjo, S., I.H. Utomo dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia, Jakarta.
Utomo, I. H. dan Roesmanto. 2005. Aplikasi paraquat pada beberapa ekosistem tanaman penting. Prosiding Konferensi HIGI ke XVII. Yogyakarta.

MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI SAWAH

Agustus 20, 2009

MENINGKATKAN  KESEJAHTERAAN PETANI PADI SAWAH

Oleh:  Risvan Anwar

Pernahkan kita memperhatikan  perubahan tingkat kesejahteraan para petani padi sawah? Lingkaran kemiskinan tidak pernah lepas dari kehidupan mereka. Umumnya yang terjadi pada mereka adalah jumlah anggota keluarga yang semakin bertambah, luas lahan sawah mereka yang semakin berkurang dan terbelit hutang, akhirnya mereka menjadi buruh tani di tanah yang dulunya milik mereka sendiri.

Mengapa nasib petani padi sawah kita demikian? Petani padi sawah semestinya menjadi pihak yang diuntungkan karena mereka memegang monopoli produksi. Apalagi ukuran ketahanan pangan Indonesia adalah tersedianya produksi padi dan stok nasional beras, bukan sumber pangan lain seperti jagung, umbi-umbian atau gandum.  Pasar beras dikendalikan pemerintah, sehingga harga beras tetap stabil pada tingkat yang terjangkau seluruh konsumen, termasuk petani. Kebijakan ini sangat bijaksana disaat pendapatan masyarakat yang masih rendah seperti sekarang ini.  Kalau harga cenderung naik maka pemerintah melakukan operasi pasar sehingga harga beras terkendali, stabil dan tetap rendah. Dikeluarkanlah beras dari simpanan pemerintah.  Kemudian pemerintah mengimpor beras kembali sehingga stok digudang Bulog tidak berkurang.  Tahun 2006 pemerintah mengimpor beras sebesar 210.000 ton dengan dana Rp. 390 milyar lebih. Tahun 2000 pemerintah mengimpor beras sebesar 1,355 juta ton, 2001 sebesar  644.000 ton, 2002 sebesar 1,8 juta ton, 2003 sebesar 1,428 juta ton, 2004 sebesar 236,87 ribu ton, dan 2005 sebesar 173,57 ribu ton.

Kebijakan impor beras ini mungkin saja tidak menurunkan harga beras karena hanya untuk cadangan pemerintah yang disimpan pada gudang Bulog, bukan pada pasar.  Namun bagi petani kesempatan menambah pendapatan (profit taking) dari kelangkaan beras tidak pernah mereka kecap.  Untuk menjaga agar nasib petani padi sawah tidak terlalu terpuruk jauh, pemerintah mempolakan sistem subsidi bagi petani.  Subsidi tersebut berupa keringanan dalam pengadaan sarana produksi sehingga petani bisa membeli pupuk, benih, pestisida dengan harga yang sebanding dengan harga jual produk gabahnya.  Jelas sekali kebijakan ini seolah-olah mematok standar hidup petani.  Namun dirasakan kurang adil karena harga-harga barang lain kebutuhan petani dan sektor jasa relatif tinggi yang tidak terjangkau oleh penghasilan petani. Nilai tukar produk padi petani dirasakan semakin merosot dan petani menjadi semakin miskin.

Kebijakan padi sentris seperti ini mengakibatkan perhatian pemerintah pada komoditi palawija dan hortikultura kurang mendapat perhatian dan dorongan intensifikasi, akibatnya membanjirlah produk palawija dan hortikultura di negeri ini dari negara-negara yang mengalami kelebihan produksi.  Hal ini mengakibatkan kehidupan petani padi sawah lebih tidak menguntungkan. Apalagi bila ada keinginan pemerintah untuk mengurangi subsidi atau menaikkan harga  sarana produksi, akan berakibat bercocok tanam padi sawah tidak prospektif lagi.  Rasionalitas petani akan bangkit, mereka membanding-bandingkan pendapatannya dengan petani lain yang tidak bercocok tanam padi sawah atau yang bergerak dibidang usaha lain. Akibatnya, mereka tidak peduli dengan fungsi mereka sebagai penopang ketahanan pangan nasional dengan berproduksi padi semaksimal mungkin.

Rasionalisasi tersebut, mungkin saja petani akan mengurangi biaya produksi seperti tidak menggunakan pupuk dan pestisida, benih mereka ambil dari produksi sendiri dan bukan benih unggul, seperti halnya petani kita zaman dulu. Atau mereka mencari input produksi alternatif yang lebih murah.  Produktivitas pasti rendah dan mereka bercocok tanam padi sawah bukan untuk tujuan komersil lagi, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya semata (subsisten).  Tidak menutup kemungkinan mereka menanam lahan sawahnya dengan komoditi yang lebih menguntungkan seperti palawija bahkan mungkin karet atau sawit, atau menjual sawah mereka dan beralih ke profesi lain. Dampaknya adalah ketersediaan beras nasional akan semakin berkurang dan ketergantungan terhadap impor beras yang tidak strategis tersebut semakin besar.

Bagaimana menggairahkan petani untuk mau bercocoktanam padi sawah dan meningkatkan produksinya?  Kebijakan menanam tiga kali setahun, kurang bijaksana bagi ekologis tanaman padi dan secara ekonomi tidak menguntungkan. Penanaman padi secara terus menerus dapat mengakibatkan terkurasnya unsur hara tertentu yang tidak dapat digantikan dengan pupuk anorganik yang banyak dijual dimasyarakat, selain itu juga dapat merusak struktur tanah serta biologi tanah.  Pemupukan yang terus menerus dengan dosis yang selalu ditingkatkan dapat mengakibatkan meningkatnya kemasaman tanah yang berakibat unsur hara tidak tersedia bagi tanaman.  Penanaman padi sawah secara terus menerus sepanjang tahun juga dapat mengakibatkan makin berkembangnya hama dan penyakit padi karena siklus hidup hama dan penyakit tersebut tidak pernah diputus dan sumber makanannya selalu tersedia.

Kebijakan pemerintah daerah untuk menggairahkan petani menanam padi sawah sebaiknya diarahkan pada pemberian subsidi pada sarana produksi.  Meskipun pemerintah pusat telah menerapkan kebijakan itu, pemerintah daerah sebaiknya menambah subsidi tersebut sehingga selisih antara penerimaan dan biaya produksi semakin besar.  Selain itu adalah mengurangi biaya usaha tani dengan menerapkan mekanisasi pertanian.  Dengan mekanisasi pertanian selain dapat mengurangi biaya produksi juga luasan areal yang dapat ditanami semakin luas dan proses produksi semakin cepat dan tepat waktu dengan kualitas produksi yang semakin baik.  Selain dari itu petani tidak dianjurkan menjual produknya dalam bentuk gabah tetapi setidak-tidaknya dalam bentuk beras. Apalagi bila pemerintah daerah yang baik hati akan membeli beras petani dengan harga yang sudah disubsidi pula.  Apabila pemberian subsidi tersebut dapat diterima petani padi sawah sebesar Rp. 3000 perkilogram beras saja, maka penerimaan petani perhektar dari subsidi saja dapat mencapai Rp. 6.000.000,- setiap kali panen.  Belum lagi keuntungan yang diperoleh petani dari pengurangan biaya produksi dengan menerapkan mekanisasi pertanian serta semakin luasnya lahan yang dapat ditanami.  Apabila kebijakan ini diterapkan dengan baik dan penuh tanggungjawab, tentu petani akan bergairah menanam padi dan ketakutan kita akan kekurangan pangan khususnya makanan pokok beras tidak perlu dikhawatirkan.

—————–

UJI BERBAGAI HERBISIDA DALAM MENGENDALIKAN GULMA PADA PERTANAMAN KEDELAI DI LAHAN BASAH Test Of Various Herbicides To Control The Weeds Soybean In Wet Areal

Agustus 20, 2009

UJI BERBAGAI HERBISIDA PADA PERTANAMAN KEDELAI DI LAHAN BASAH

Test Of Various Herbicides To Control The Weeds Soybean In Wet Areal

Risvan Anwar

Dosen Fakultas Perttanian Unihaz

ABSTRACT

The purpose of the research was to know effect some kind herbicides to control the weed soybean in wet areal.  The study was conducted at Rawa Makmur, Bengkulu from January through April 2007.  A Randomized Block Design was used 3 replication and 8 treatment namely: (A) Agristar; (B)  Ally Plus; (C)  DMA 6; (D)  Metafuron; (E)  Agristar and DMA 6;  (F)  Agristar and Metafuron; (G)   Ally Plus and DMA 6; (H)  Ally Plus and Metafuron. The result of experiment suggested that just pre plant herbicides (Ally Plus and Agristar) or post emergence herbicides (DMA6 and Metaforon) only was not effective to control the weeds soybean in wet areal. Pre plant herbicide (Ally Plus) that next is followed post emergence DMA6 most effective to control the weed soybean in wet areal.

Key word:  herbicide, weeds, control, soybean.

PENDAHULUAN

Khusus untuk propinsi Bengkulu, luas panen dan produksi kedelai cenderung meningkat sejak tahun 2001.  Tahun 2001 luas panen kedelai sebesar 1.515 ha, tahun 2002 naik menjadi 2.055 ha dan tahun 2003 menjadi 2.309 ha.  Produksi kedelai Propinsi Bengkulu tahun 2001 sebesar 1.395 ton, tahun 2002 sebesar 1.919 ton dan tahun 2003 sebesar 2.084 ton dengan produktivitas lahan 0,90 – 0,93 ton per hektar (BPS Propinsi Bengkulu, 2004).  Meskipun ada peningkatan produksi, kedelai propinsi bengkulu masih dipasok dari propinsi lain dan impor.  Di pasar-pasar tradisional sebagian besar kedelai berasal dari import terutama Thailand dan Vietnam.

Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, ada beberapa cara yang dapat dilakukan seperti intensifikasi dan ekstensifikasi.  Intensifikasi yaitu peningkatan produksi persatuan luas tertentu.  Intensifikasi dilaksanakan dengan cara menggunakan benih unggul bermutu; perbaikan pengolahan tanah; pemupukan yang tepat dosis, waktu dn cara; pengairan yang baik; pengendalian hama dan penyakit; dan panen yang baik dan tepat.  Ekstensifikasi yaitu perluasan areal pertanaman.  Ekstensifikasi dilaksanakan dengan cara pembukaan lahan usaha baru, pemanfaatan lahan tidur, pemanfaatan rawa, sawah tadah hujan dan lahan sawah beririgasi.

Pemanfaatan rawa, sawah tadah hujan dan lahan sawah beririgasi (lahan basah) untuk pertanaman kedelai dimungkinkan.  Namun pemanfaatan lahan basah akan menemui beberapa faktor pembatas utama yaitu drainase yang buruk.  Lahan basah seperti itu dapat ditanggulangi dengan cara membuat parit drainase.  Permasalahan lain penggunaan lahan basah adalah banyaknya gulma yang tumbuh terutama pada saat lahan tersebut dalam kondisi tidak tergenang.

Kedelai tidak membutuhkan air yang banyak untuk pertumbuhannya.  Air dalam kondisi tergenang akan menghambat pertumbuhan tanaman kedelai bahkan dapat mematikan tanaman akibat aerasi yang buruk.  Ketika lahan basah diperbaiki aerasenya kedelai dapat tumbuh dengan baik, naum gulma juga tumbuh dengan baik pula.  Pengendalian gulma secara mekanis dapat dilaksanakan namun mahal sehingga tidak ekonomis.  Umumnya petani bercocok tanam kedelai dalam skala luas karena bertujuan komersial.  Selain itu petani kedelai umumnya bermodal lemah dan tenaga kerja terbatas, sehingga memerlukan teknologi budidaya yang tingkat efisiensinya tinggi.  Upayayang efektif dan efisien dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai dilahan basah salah satunya adlah dengan menggunakan herbisida selektif.

Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan uji berbagai jenis herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma di pertanaman kedelai di lahan basah dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai.

METODOLOGI PENELITIAN

Percobaan ini  dilaksanakan di pada lahan sawah tadah hujan Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu.  Penelitian dilaksanakan bulan Januari – April 2007.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 8 (delapan macam perlakuan herbisida.  Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.  Perlakuan herbisida tersebut meliputi:

A         =  Agristar

B         =  Ally Plus

C         =  DMA 6

D         =  Metafuron

E         =  Agristar dan DMA 6

F          =  Agristar dan Metafuron

G         =  Ally Plus dan DMA 6

H         =  Ally Plus dan Metafuron

Herbisida pra tanam Agristar dan Ally Plus disemprot pada permukaan tanah satu hari menjelang benih ditanam.  Perlakuan dengan herbisida agristar tersebut adalah perlakuan A, E dan F.  perlakuan dengan herbisida Ally Plus tersebut adalah perlakuan B, G dan H.  konsentrasi herbisida yang digunakan adalah 2 ml/l air.  Jumlah cairan yang dihabiskan adalah 300 ml/l air untuk petakan 6 m2

Sebelum benih ditanam, lahan disemprot dengan herbisida pra tanam.  Herbisida purna tumbuh yaitu herbisida DMA6 dan Metafuron disemprot sesuai dengan petak perlakuannya pada umur kedelai 6 minggu setelah tanam (MST).  Herbisida DMA6 untuk perlakuan C, E dan G, dan herbisida Metafuron untuk perlakuan D, F dan H.  Konsentrasi herbisida yang digunakan 2 ml/l air.  Jumlah cairan yang dihabiskan adalah 300 ml/6 m2.

Pengamatan kedelai dilakukan pada tanaman sampel yang ditentukan yaitu 5 populasi tanaman tengah.  Sedangkan gulma pada dua petak sampel berukuran 50 x 50 cm atau 2500 cm2.  Peubah yang diamati adalah: (1) Tinggi tanaman (cm), (2) Jumlah Polong Bernas (polong), (3) Jumlah polong (polong), (4) Berat Biji Kering Pertanaman (g), (5)  Berat 100 biji (g), (6) Berat Kering Biji Perpetak (g), (7) Populasi gulma (Populasi /2500 cm2), (8), Berat Kering Gulma (g/2500 cm2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh berbagai herbisida terhadap pertumbuhan gulma disajikan pada Tabel 1 dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan basah disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1.  Pengaruh Berbagai jenis Herbisida terhadap pertumbuhan Gulma pada pertanaman kedelai di lahan basah tadah hujan

Perlakuan

Populasi Gulma

Berat Kering Gulma

A  =  Agristar

B  =  Ally Plus

C  =  DMA6

D  =  Metafuron

E =   Agristar dan  DMA6

F =  Agristar dan  Metafuron

G  =  Ally Plus dan DMA6

H  =  Ally Plus dan Metafuron

10,5 a

10,3 a

9,7 a

10,7 a

3,0 b

3,5 b

2,8 b

3,5 b

22,0 a

20,3 a

19,7 a

20,7 a

9,0 b

9,0 b

8,0 b

9,0 b

Keterangan:  Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda  tidak nyata pada taraf uji DMRT 0,05

Tabel 1 memperlihatkan bahwa perlakuan berbagai jenis herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap populasi gulma dan berat kering gulma.  Peubah populasi gulma dan berat kering gulma mewakili pertumbuhan gulma setelah dilakukan penyemprotan.  Setelah dilakukan uji lanjut Duncan’t (DMRT) ternyata populasi dan berat kering gulma tertinggi terjadi pada perlakuan penyemprotyan herbisida pra tanam saja dan purna tumbuh saya (Perlakuan A, B, C dan D).  Perlakuan ini berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi antara pra tanam yang dilanjutkan dengan perlakuan herbisida  purna tumbuh yang dapat menurunkan berat kering sampai 50% dan populasi gulma 60%.  Pengurangan populasi dan berat kering gulma ini berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai di lahan basah.

Tabel 2. Dampak aplikasi berbagai jenis herbisida terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai lahan basah tadah hujan

PERLAKUAN

Tinggi Tanaman

Jumlah Polong Bernas

Jumlah Polong per tanaman

Berat biji kering pertanaman

Berat kering biji per petak

A  =  Agristar

B  =  Ally Plus

C  =  DMA6

D  =  Metafuron

E =   Agristar dan

DMA6

F  =  Agristar dan

Metafuron

G =  Ally Plus dan  DMA6

H =  Ally Plus dan

Metafuron

66,80 d

60,13 c

57,47 b

53,27 a

79,80 e

88,87 f

127,00 h

100,80 g

69,00 d

51,33 c

38,66 b

36,00 a

94,67 e

101,67 f

133,33 h

115,67 g

77,33 d

58,00 c

46,00 b

42,67 a

106,67 e

114,33 f

147,67 h

128,33 g

10,06 c

7,57 b

5,86 a

5,75 a

13,49 d

14,42 e

18,72 g

16,33 f

147,67 d

111,67 c

86,40 b

80,60 a

198,33 e

212,00 f

275,33 h

240,33 g

Keterangan:  Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda  tidak nyata pada taraf uji DMRT 0,05

Populasi dan berat kering gulma yang lebih banyak dan tinggi pada perlakuan yang hanya menggunakan herbisida pra tanam saja atau purna tumbuh saja menyebabkan tanaman kedelai tertekan akibat kompetisi antara kompetisi gulma dan kedelai.  Penyemprotan dengan herbisida pra tanam menyebabkan kompetisi terjadi pada pertengahan sampai panen, sedangkan penyemprotan dengan herbisida purna tumbuh mengakibatkan kompetisi gulma dan kedelai terjadi pada awal pertumbuhan.  Sastoutomo (1990) menyebutkan bahwa gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada tempat dan waktu yang tidak diinginkan, karena tumbuhan tersebut dapat merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung.  Kerugian secara langsung terjadi akibat kompetisi yang dapat menurunkan kuantitas maupun kualitas dari hasil panen.  Sedangkan kerugian secara tidak langsung karena gulma dapat berfungsi sebagai inang bagi hama dan penyakit tanaman.

Kompetisi bisa terjadi di atas permukaan tanam seperti kompetisi dalam pengambilan cahaya dan CO2 dan kompetisi dibawah tanah yaitu kompetisi dalam pemanfaatan ruang, air dan unsur hara (Moenandir, 1990).  Kompetisi terjadi bila dua individu atau lebih membtutuhkan sarana tumbuh yang sama, sementara sarana tumbuh tersebut terbatas.  Ditambahkan oleh Sukman dan Yakup (1991), bahwa kepadatan gulma menentuklan persaingan dan menentukan produksi tanaman.

Gulma yang dominan di pertanaman kedelai di lahan sawah setelah disemprot dengan herbisida pratumbuh dan sebelum penyemprotan herbisida purnatumbuh  adalah Cyperus iria L., C. diformis L., C rotundus L. Fimbristylis littoralis L., Monochorium vaginalis (Burm. F), Echinochloa colonum L., E. crusgalli L., dan Leersia hexandra L.  Setelah perlakuan herbisida pratumbuh dilanjutkan dengan purna tumbuh maka gulma yang dominan adalah E. colonum L., E. crusgalli dan Leersia hexandra.

Dampak aplikasi herbisida terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai  pada Tabel 2 memperlihatkan bahwa tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan herbisida pra tanam  Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) yaitu 127,00 cm.    Tinggi tanaman terendah terjadi pada perlakuan penyemprotan herbisida purna tumbuh Metafuron (D) yaitu 53,27 cm.    Hal ini  besar kemungkinan disebabkan karena perlakuan herbisida pra tanam Ally plus, yang diikuti perlakuan herbisida purna tumbuh  6 minggu setelah tanam (G) gulma sangat tertekan pertumbuhannya sehingga memungkinkan kedelai tumbuh dengan baik.  Rendahnya tinggi tanaman pada perlakuan penyemprotan herbisida Metafuron (D) diduga disebabkan sewaktu masa pertumbuhan aktif kedelai (0-6 minggu setelah tanam) terjadi kompetisi antara tanaman kedelai dengan gulma, karena tidak dilakukan penyemprotan herbisida pra tumbuh yang mampu menekan biji-biji gulma untuk berkecambah.  Ketika itu pertumbuhan tanaman menjadi terhambat pertumbuhan tingginya.  Hal ini bisa dilihat pada Tabel 1 bahwa pada perlakuan herbisida Metafuron populasi gulma dan berat kering gulmanya tertinggi.

Tabel 2 juga  memperlihatkan fenomena yang sama untuk peubah hasil kedelai yaitu jumlah polong bernas, jumlah polong, berat biji kering pertanaman, berat kering biji perpetak yaitu berpengaruh sangat nyata setelah diperlakukan dengan berbagai jenis herbisida.  Setelah dilakukan uji lanjut berganda Duncan’t (DMRT), ternyata memperlihatkan pola yang sama pula yaitu perlakuan dengan herbisida pratumbuh Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) memberikan komponen hasil tertinggi.  Hal ini menunjukkan bahwa  perlakuan dengan herbisida tunggal saja, apakah itu pra tanam ataupun purna tumbuh, belum cukup dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai dilahan basah, sehingga berdampak pada komponen hasil kedelai.  Perlakuan dengan herbisida pra tanam Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) ternyata lebih efektif bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya meskipun disemprot dengan herbisida pra tanam dan purna tumbuh.  Tabel 1 memperlihatkan ternyata benar bahwa perlakuan dengan hanya menggunakan herbisida tunggal saja memberikan jumlah populasi gulma dan berat kering gulma yang jauh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

KESIMPULAN

Perlakuan berbagai jenis herbisida berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai dilahan basah serta terhadap pertumbuhan gulma. Penyemprotan dengan herbisida pra tanam saja (Ally plus dan Agristar) atau dengan herbisida purna tumbuh saja (DMA6 dan Metafuron) tidak efektif dalam mengendalikan gulma dipertanaman kedelai dilahan basah. Penyemporotan herbisida pra tanam Ally Plus yang kemudian diikuti dengan herbisida purna tumbuh DMA6 (G) lebih efektif dalam mengendalikan gulma di pertanaman kedelai di lahan basah dibandingkan dengan herbisida lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2004.  Bengkulu Dalam Angka 2003.  BPS. Propinsi Bengkulu.

Moenandir, J.  1990.  Teknik pengendalian Gulma.  Rajawali Press, Jakarta.

Sasroutomo. 1990.  Ilmu Gulma.  Rajawali Press, Jakarta.

Sukman, Y dan Yakup. 1991.  Gulma dan Teknik Pengendaliannya, Rajawali Press, Jakarta.

Hello world!

Agustus 7, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.